Sunday, June 9, 2013
Anak Lelaki yang Bermain Layangan
Jauh jalan yang harus kau tempuh
Mungkin samar bahkan mungkin berat
Tajam kerikil setiap saat menunggu
Engkau lewat dengan kaki tak bersepatu
Duduk sini Nak, dekat pada bapak
Jangan kau ganggu ibumu
Lekaslah turun dari pangkuannya
Engkau lelaki...kelak sendiri.
(Nak - Iwan Fals)
Di rumah seberang, ada sebuah keluarga. Seorang ibu, seorang anak perempuan tertua, seorang anak lelaki menjelang remaja dan seorang bocah kecil. Sang ayah, sang suami, sang kepala sudah tiada.
Si dua anak lelaki itu senang bermain layangan. Saat pagi, waktu angin bahkan belum berhembus kencang. Saat siang, waktu matahari terik dan ibu mereka sibuk membersihkan rumah orang. Saat senja, waktu kakak perempuan mereka pulang kerja dengan wajah lelah.
Malamnya, mereka bermain gundu. Butiran-butiran kecil berwarna-warni mereka sentilkan diiringi teriakan gembira. Tanpa beban, tanpa ketakutan akan hari esok. Anak lelaki yang pertama tidak mau meneruskan sekolah, ia memilih layangan di langit, komputer di warung internet dan gundu di jalanan dibanding buku pelajaran dan papan tulis. Anak lelaki yang kedua bagai bibit yang tumbuh di lahan yang gersang, terlalu lugu dan terlalu kecil untuk mengenali tatapan letih dan kerut-kerutan di wajah si Ibu.
Suatu saat nanti, mereka akan tumbuh. Mereka akan mengerti.
Semoga.
Thursday, June 6, 2013
Introvert di antara Ekstrovert
Jadi, saya introvert.
Punya beberapa sahabat yang introvert juga. Baru-baru ini, saya baru
bertemu salah satunya dan diskusi semalaman tentang hal ini.
Pemahaman
yang umum tentang introvert/ekstrovert itu biasanya: introvert = tertutup,
pendiam, dan penyendiri; sedangkan esktrovert = terbuka, supel, dan aktif. Sebenarnya,
pemahaman semacam ini salah kaprah. Ada introvert yang banyak bicara dan aktif
berkegiatan, sementara ada juga ekstrovert yang jarang/sulit berbaur dengan
orang-orang walaupun sebenarnya ingin.
Lantas,
apa dong sebenarnya definisi introvert/ekstrovert? Simpelnya begini: seorang
introvert mencari dan mendapat validasi dari sumber internal, sedangkan seorang
ekstrovert mencari dan mendapat validasi dari sumber eksternal (*kamus Merriam
Webster, bersumber dari pemikiran Carl Jung). Ehm, itu nggak simpel ya? Oke,
berikut penjelasan lebih detail.
Seorang
introvert cenderung mengkonstruksi prinsip hidup sendiri dan memperoleh
kepuasan hidup lewat standar yang ia tentukan sendiri. Sementara, seorang
ekstrovert cenderung menyesuaikan prinsip hidupnya berdasarkan dunia eksternal
di sekelilingnya dan memperoleh kepuasan hidup dari pengakuan publik akan
eksistensinya. Nggak ada yang benar atau salah antara kedua hal itu; yang
penting adalah kita dapat mengidentifikasi yang manakah kita dan
mengembangkannya ke arah yang positif.
Karena
saya introvert, jadi saya akan lebih banyak bahas tentang introversi di sini.
Ini agak penting, karena saya rasa mayoritas orang di Indonesia adalah
ekstrovert. Jadi, saya dan teman introvert saya sering merasa seperti “orang
aneh”, hehe. Banyak pula sepertinya orang “introvert murtad” yang terpaksa
mengikuti arus extrovert di sekelilingnya biarpun sebenarnya hatinya berontak.
Berdasarkan pembahasan saya dan teman saya, berikut ini poin-poin yang paling
kami rasakan sebagai introvert (ingat, ini sifatnya tidak ilmiah atau empiris
atau apapun itu. Ini murni hanya hasil observasi, perenungan dan diskusi):
~Nggak
salah kalau introvert dibilang menikmati kesendirian, tapi bukan otomatis
berarti mereka anti-sosial dan terus-terusan asik dengan diri sendiri. Saya
sendiri dapat menikmati interaksi sosial dan punya kebutuhan untuk itu, TAPI ada (banyak) saat di mana
saya butuh waktu dan ruang pribadi. Ada banyak aktivitas yang saya lebih suka
lakukan sendiri. Waktu kesendirian itu
penting, karena saat itulah saya benar-benar dapat menjalin ide dalam kepala, mengembangkan
imajinasi, dan terutama memproduksi sesuatu.
~Saya
lebih menyenangi interaksi sosial yang sifatnya lebih intim (*berjumlah
sedikit) daripada ramai-ramai. Sekali lagi, ini bukan berarti saya membenci
keramaian. Hanya masalah preferensi. Bicara berdua, misalnya, terasa jauh lebih
nyaman dan akomodatif daripada bicara dengan banyak orang yang kepribadian dan
minatnya berbeda-beda. Kalau bertemu dengan orang lain yang
punya kecocokan dalam minat dan kepribadian, saya bisa betah ngobrol sampai
berjam-jam.
~Saya
susah basa-basi dan beramah-tamah. Sulit untuk menerapkan etika-etika sosial
yang nggak tertulis, apalagi sewaktu ingin mengerjakan sesuatu atau kepada orang
yang belum dikenal. Kadang bisa ditutupi dengan agak dipaksakan (*karena skill “basa basi busuk” memang penting di tengah
lingkungan masyarakat kita dan hal yang harus saya terapkant, walaupun
nggak akan bisa terjadi secara alami), terutama kalau mood sedang benar-benar
bagus.
~Masih
berkaitan dengan poin barusan, jangan marah kalau menyapa seseorang saat
berpapasan dan hanya dapat respon seadanya (*kurang senyum/kurang antusias/dll)
atau telat respon. Kemungkinan besar dia introvert; kita memang sering ala
kadarnya merespon panggilan akrab karena kurang tanggap menghadapi interaksi
sosial yang muncul tiba-tiba (*apalagi kalau kepala sedang sibuk memikirkan
sesuatu).
~Kalau mengajak seorang introvert untuk kumpul-kumpul atau acara bersama dan dia menolak, jangan langsung asumsikan dia ada masalah dengan orang yang mengajak/acaranya/dirinya sendiri. Orang introvert nggak segan memilih untuk beraktivitas sendiri (*baca buku di rumah, meneruskan pekerjaan) dibanding kegiatan bersama JIKA memang mood-nya sedang ingin sendiri. Ini beda dengan ekstrovert, yang biasanya akan selalu memilih tidak sendiri dalam kondisi apapun kalau memang bisa.
~Ada
banyak orang yang menyatakan bahwa “kebahagiaan terbesar adalah bisa membuat
diri berarti bagi orang lain”, tapi saya sejujurnya tidak merasa begitu.
Kebahagiaan terbesar saya adalah saat berhasil mengekspresikan diri saya lewat
sesuatu dan membuat diri saya berarti bagi diri sendiri. Kalau ada orang
lain yang mengapresiasi dan terkena efek positif dari apa yang saya lakukan,
bagus; tapi itu bonus buat saya, bukan hal utama yang saya cari. Makanya,
kebanyakan seniman (penulis/pelukis/musisi/dll) berasal dari kalangan introvert,
khususnya mereka yang tujuan utamanya berkarya memang untuk pengekspresian diri
sendiri demi kepuasan pribadi.
~Saya
agak kikuk berinteraksi fisik (berpegangan, peluk, cium, dsb.) dan selalu
merasa konyol sewaktu harus ikut yel-yelan, bertepuk tangan bersama, atau
mengeluarkan “pose-pose motivasi”. Hal-hal yang tujuannya untuk mengeratkan
spirit komunal itu nggak pernah berarti banyak bagi saya.
~Saya
nggak menyenangi ritual (upacara bendera, pernikahan, pemakaman, kelulusan, dll)
dan kalau memungkinkan selalu memilih untuk nggak menjalankannya, atau paling
nggak membuatnya sesederhana mungkin.
Ya,
jadi itulah hal-hal utama yang saya dan teman saya rasakan. Tentunya, saya
nggak jamin semua hal di atas itu adalah ciri introvert atau setiap introvert
pasti merasakan semua itu. Hanya sebatas sharing dan usaha penjelasan dari apa yang sering kali disalahpahami oleh kebanyakan orang =)
Untuk
para introvert di luar sana yang masih galau identitas: jalani hidup sesuai
yang kamu yakini. Buat dan hasilkan sesuatu. Selalu ambil keputusan akhir dari
apa yang kamu benar-benar yakini. Tapi, tetap terima dan dengar masukan
pendapat orang lain. Cari orang-orang yang bisa sepaham dan mengerti kamu,
pertahankan orang-orang itu. Dunia memang bukan milik kita sendiri, tapi bukan berarti kita harus mengorbankan jati
diri untuk bisa hidup di dunia ini.
Tuesday, May 28, 2013
Happy Ending, Sad Ending, & Good Ending
Dulu sewaktu kecil, saya maunya setiap cerita harus happy ending. Jagoannya harus menang, semua yang baik harus selamat di akhir cerita dan penutupnya harus berembel-embel "...dan mereka pun hidup bahagia selamanya." atau sejenisnya. Mungkin karena waktu itu saya merasa kalau gunanya fiksi itu untuk eskapisme atau pelarian. Hidup kan tidak selalu seperti apa yang kita inginkan, jadi buat apa fiksi yang ujung-ujungnya tidak beda jauh dengan kehidupan nyata? Begitulah pemikiran saya waktu itu. Dulu, saya paling anti cerita semodel Romeo & Juliet, yang setelah dibaca langsung buat saya berpikir (*spoiler buat yang nggak pernah baca/nonton): "Buset, ngapain si penulisnya capek2 buat cerita sepanjang ini kalau akhirnya si dua tokoh utamanya mati tragis??"
Lalu, selera saya mulai berubah seiring dengan bertambahnya umur dan makin terbentuknya pemikiran (*baca: makin sok tahu). Saya mulai menemukan cerita-cerita yang tidak berakhir dengan happy, tapi entah kenapa tetap terasa bagus. Agak lupa cerita-cerita apa saja yang menginspirasi saya itu, tapi yang jelas salah satunya Robohnya Surau Kami; cerpen yang pertama kali saya baca di buku pelajaran Bahasa Indonesia SD (atau SMP? Agak lupa) dan langsung meninggalkan kesan yang mendalam. Lama-kelamaan, saya pun semakin tertarik mencari cerita yang berakhir sedih, tragis atau tidak menyenangkan. Di sinilah saya menemukan fungsi nyata lainnya dari fiksi: sebuah refleksi alih-alih eskapisme. Sikap sok anti-mainstream pun terbentuk; saya mencap jelek dan meremehkan cerita-cerita yang happy ending, serta mengagung-agungkan para penulis cerita yang mau mengambil risiko membuat pembaca jengkel dengan sad ending.
Tapi, pemikiran semacam ini juga salah.
Akhirnya, setelah saya mulai kuliah dan memperluas referensi bacaan, barulah saya perlahan paham akan sesuatu; kualitas ending sebuah cerita bukan semata diukur dari apakah itu adalah happy ending atau sad ending. Baik happy ending ataupun sad ending tidak masalah, yang penting adalah apakah ending itu terjadi secara alami selepas keseluruhan proses cerita. Bukan asal bahagia atau asal tragis saja. Kalau happy ending, apakah tokoh-tokoh dalam cerita itu memang layak mendapatkannya? Kalau sad ending, apakah ada makna di balik itu atau hanya sekedar sok kejam saja?
Saya pun kembali diingatkan tentang hal itu setelah menonton film ini:
(spoiler buat yang belum nonton filmnya):
Dari aspek plot, film ini sangat biasa sebenarnya. Konfliknya klasik dan alurnya sangat mudah ditebak: seorang single father dan anaknya yang masih kecil berjibaku di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan sebelum akhirnya berhasil merubah nasib di akhir film. Ini jenis cerita yang dulu sempat saya benci dan remehkan, dan sejujurnya film ini memang masih banyak kekurangan. TAPI, ada sesuatu pada eksekusi penceritaannya yang membuat film ini memiliki nilai lebih dibanding film sejenisnya. Tampan Tailor berakhir dengan Happy Ending yang sebenarnya sudah bisa ditebak sebelumnya (bukan sekedar Happy Ending malah, tapi Super Duper Ultra Happy Ending), tapi saya pribadi beranggapan bahwa ini jenis Happy Ending yang bagus karena proses yang terjadi sebelumnya berhasil meyakinkan para penonton bahwa tokoh-tokoh utama di film ini memang layak mendapat ending itu.
Contoh lainnya begini: anggaplah ada dua jenis cerita dengan konflik yang sama. Cerita A mengisahkan keluarga miskin yang kerjanya sehari-hari bermalas-malasan dan adu mulut, tetapi berhasil merubah nasib setelah memenangkan undian lotere. Cerita B juga mengisahkan sebuah keluarga miskin, tapi menunjukkan perjuangan dan rasa kekeluargaan mereka sehari-hari hingga akhirnya mereka berhasil merubah nasib berkat jerih-payah tersebut. Sama-sama happy ending, tapi proses narasi di Cerita B jelas jauh lebih memuaskan.
Begitulah. Ending pada sebuah cerita memang bukan segalanya, tapi tetap penting karena biasanya ending ceritalah yang akan meninggalkan kesan paling mendalam bagi penikmat cerita. Happy Ending bisa menjadi lebih dari sekedar klise dengan membuat kita berempati dan peduli pada nasib tokoh cerita, sedangkan Sad Ending bukan berarti semua yang terjadi sebelumnya jadi nggak ada artinya. Jadi, yang penting bukanlah Happy Ending atau Sad Ending, tapi apakah itu adalah sebuah Good Ending.
Friday, March 22, 2013
Seorang Gadis Sempurna di Pagi Hari Bulan April
Post kali ini, saya ingin share sebuah cerita pendek dari Haruki Murakami, seorang penulis level internasional yang sudah menerbitkan sejumlah novel dalam bahasa Inggris (Norwegian Wood, Kafka on The Shore, Sweetheart Sputnik,dll.) Murakami itu gaya menulisnya sangat khas; jenaka dan luar biasa kreatif, penuh melankolia tapi tidak mendayu-dayu, dan seringkali bermain-main dengan realita dan unsur magis (bahasa kerennya, magical realism). Perkenalan saya dengan Murakami dimulai dari cerita pendek ini, yang langsung membuat saya tertarik untuk mencari karya-karyanya yang lain =)
Berikut ini adalah versi terjemahan yang saya buat beberapa tahun lalu dalam rangka latihan (versi aslinya dalam bahasa Inggris bisa ditengok di sini):
"Seorang Gadis Sempurna di Pagi Hari Bulan April"
Oleh
Haruki Murakami
Diterjemahkan
oleh Muhammad Yesa Aravena
Pada suatu
pagi yang indah di bulan April, di jalanan sempit kawasan Harajuku, Tokyo, aku
melihat seorang gadis yang 100% sempurna.
Jujur,
dia tidak begitu cantik....dan bahkan tidak menonjol dari segi manapun.
Pakaiannya biasa saja. Rambutnya masih acak-acakan khas orang baru bangun
tidur. Ia juga sudah tidak muda lagi—sepertinya sudah mendekati umur kepala
tiga, dan sebenarnya kurang pantas kalau masih disebut “gadis”. Namun, bahkan
dari jarak 50 meter sekalipun, aku langsung menyadari bahwa ia adalah gadis
yang 100% sempurna bagiku. Tepat begitu aku melihatnya, jantungku berhenti
berdetak selama sekejap, dan mulutku terasa kering bagaikan padang pasir.
Mungkin
kau juga memiliki tipe ideal tertentu: misalnya yang berdada montok, yang
bermata belo, yang berjari-jari lentik, atau mungkin entah kenapa kau tertarik
pada gadis yang cara makannya lambat dan anggun. Pernah suatu ketika, aku tidak
bisa berhenti memandangi seorang gadis di restoran karena aku menyukai bentuk
hidungnya.
Namun
menurutku, tidak ada parameter yang dapat benar-benar menjelaskan kenapa orang
bisa merasa bahwa seorang gadis terasa 100% sempurna bagi dirinya. Bentuk
hidung memang penting bagiku, namun kembali ke soal gadis yang kutemui itu, aku
bukannya terpesona oleh bentuk hidungnya. Bahkan kalau dipikir-pikir, aku malah
tidak ingat hidungnya seperti apa. Satu-satunya hal yang kuyakini adalah bahwa
ia benar-benar biasa-biasa saja secara fisik. Aneh.
“Kemarin
di jalan aku melihat seorang gadis yang 100% sempurna”, aku bercerita dengan
berapi-api kepada seorang teman.
“Oh
iya?” responsnya. “Cantik ya?”
“Tidak
juga.”
“Tipemu?
Seperti apa dia?”
“Hem....tidak
tahu. Aku bahkan tidak bisa benar-benar ingat dia seperti apa—bentuk matanya
atau ukuran dadanya.”
“Aneh.”
“Iya.
Aneh.”
“Lalu....”,
ia melanjutkan, mulai nampak kehilangan minat. “Apa yang kau lakukan?
Menyapanya? Mengajaknya jalan? Mengikutinya?”
“Aku
tidak melakukan apa-apa, hanya berpapasan saja dengannya di jalan.”
Saat
itu, aku sedang berjalan dari barat ke timur, dan ia dari timur ke barat. Di
bawah matahari pagi bulan April yang cerah.
Seandainya
saja aku bisa mengobrol dengannya. Setengah jam saja cukup: aku bisa menanyakan
mengenai dirinya, lalu bercerita tentang diriku sendiri, dan yang paling
penting—menyampaikan kepadanya bagaimana aku sangat berterima kasih kepada
takdir yang telah membuat aku dan dia saling berpapasan di sisi jalan Harajuku,
pada pagi hari April yang indah tahun 1981. Hal itu pastilah terasa seperti
mengungkapkan rahasia yang terasa murni dan hangat, bagaikan mengingat kembali
konstruksi jam-jam kuno ketika dunia masih belum mengenal perang.
Setelah
mengobrol, kita akan pergi makan siang di suatu tempat, lalu mungkin nonton
film Woody Allen, dan akhirnya mengunjungi bar hotel untuk minum koktail.
Dengan sedikit keberuntungan, kita akan mengakhiri hari di tempat tidur.
Hanya
sekedar membayangkan potensi hal-hal yang dapat terjadi, jantungku sudah
seperti mau copot.
Saat
itu, ketika jarakku dengan dia tinggal 15 meter, aku mulai gelisah. Bagaimana
aku menyapanya? Apa yang harus kukatakan? Aku mulai membayangkan berbagai
kemungkinan dalam kepalaku.
“Pagi, Nona. Boleh minta waktunya setengah jam saja untuk ngobrol?”
Konyol—kesannya
aku malah seperti salesman.
“Permisi.
Maaf, saya ingin numpang tanya: di sekitar sini ada mesin cuci umum 24 jam
tidak ya?”
Tidak,
tidak, ini juga sama konyolnya. Aku sama sekali tidak sedang membawa baju kotor
untuk dicuci. Siapa juga yang sebegitu bodohnya bisa percaya kalau aku
benar-benar sedang ingin mencuci baju?
Mungkin
sebaiknya aku jujur saja. “Selamat pagi...kamu adalah gadis yang 100% sempurna
bagiku.”
Tidak,
mana mungkin dia menganggap serius ucapanku itu. Kalaupun dia tidak langsung
kabur, jelas dia tidak akan mempercayaiku. Atau yang lebih parah lagi, ia
mungkin akan berkata seperti ini: Maaf,
mungkin memang benar aku gadis yang 100% sempurna bagimu, tapi kau bukan lelaki
yang 100% sempurna bagiku. Dan kalau misalnya aku benar-benar berada dalam
situasi seperti itu, aku jelas akan hancur berkeping-keping. Aku tidak akan
bisa pulih lagi. Umurku sudah 32, dan begitulah yang akan terjadi dalam usia
setua ini.
Kami
sama-sama melewati toko bunga. Udara yang hangat terasa menyengat kulitku.
Aspal jalanan terasa lembap, dan aku mencium wangi bunga mawar. Aku tidak bisa
memberanikan diri mengajaknya bicara. Ia mengenakan baju hangat berwarna putih,
dan tangan kanannya menggenggam sebuah amplop surat putih yang belum ditempel
perangko. Jadi: ia baru saja menuliskan sepucuk surat kepada seseorang, dan
mungkin semalaman, kalau melihat dari matanya yang masih ter lihat mengantuk. Amplop surat itu mungkin saja
berisi segala rahasia mengenai dirinya.
Aku
bergerak cepat melewatinya, dan setelah beberapa langkah, aku menengok. Ia
sudah hilang ditelan kerumunan.
***
Sekarang,
aku sudah tahu apa yang seharusnya kukatakan kepadanya. Namun, akan panjang
jadinya, terlalu panjang untuk bisa kusampaikan dengan baik. Dari berbagai
langkah yang sudah kupikirkan, tidak ada yang benar-benar terasa efektif.
Ah,
persetan. Intinya, aku akan menceritakan sesuatu kepadanya, diawali dengan “Pada
suatu waktu...” dan mengakhirinya dengan “Sungguh kisah yang sedih, ya?”
Pada suatu waktu, hidup seorang pemuda dan
seorang gadis. Pemuda itu berumur 18 sedangkan sang gadis berumur 16. Si pemuda tidak begitu tampan, dan si gadis juga
tidak begitu cantik. Mereka hanyalah pemuda dan gadis yang sama-sama kesepian,
seperti banyak orang lainnya. Namun, mereka mempercayai bahwa di suatu tempat
ada jodoh mereka, seseorang yang 100% sempurna untuk mereka. Ya, mereka percaya
kepada mukjizat. Dan mukjizat itu kemudian benar-benar terjadi.
Suatu hari, mereka berdua saling
berpapasan di jalan.
“Ini sungguh luar biasa”, kata sang
pemuda. “Aku telah mencarimu seumur hidupku. Kau mungkin tidak akan percaya,
tapi kau adalah gadis yang 100% sempurna bagiku.”
“Dan kau,” kata sang gadis, “adalah
lelaki yang 100% sempurna bagiku. Persis seperti yang kubayangkan selama ini.
Ini bagaikan mimpi.”
Mereka duduk di bangku taman,
berpegangan tangan, dan saling bertukar cerita selama berjam-jam. Mereka tidak
lagi sendirian. Sungguh suatu hal yang menakjubkan bahwa dua orang dapat saling
menemukan orang yang 100% sempurna bagi diri mereka masing-masing. Ini adalah
keajaiban, sebuah keajaiban alam.
Namun, selagi mereka saling
bercakap-cakap, benih-benih keraguan mulai tumbuh di hati mereka masing-masing.
Apakah memang benar semudah ini mimpi dapat menjadi kenyataan?
Lalu, ketika akhirnya muncul jeda
dalam percakapan mereka, sang pemuda berkata begini kepada sang gadis: “Mari
kita uji diri kita—sekali saja. Kalau misalnya kita memang benar-benar saling
merasa 100% sempurna, suatu saat waktu akan mempertemukan kita kembali. Dan di
saat itu, di saat kita benar-benar yakin kita saling merasa 100% sempurna, kita
akan menikah. Bagaimana?”
“Ya,” ia berkata. “Aku setuju.”
Maka, mereka pun berpisah, sang
gadis berjalan ke timur, sedangkan sang pemuda ke barat.
Namun, ujian yang telah mereka
sepakati sebenarnya sama sekali tidak perlu. Mereka seharusnya tidak melakukan
hal itu, apalagi setelah keajaiban yang telah mempertemukan mereka. Namun, di
usia mereka yang masih muda, mereka tidak menyadarinya. Roda takdir yang dingin
dan tak kenal ampun pada akhirnya menggilas mereka.
Di sebuah musim dingin, baik sang
pemuda dan sang gadis terserang wabah flu berat, dan setelah beberapa minggu
terombang-ambing antara kehidupan dan kematian, mereka kehilangan ingatan
masing-masing akan pertemuan mereka sebelumnya. Ketika pulih, hati mereka
terasa hampa dan kosong bagaikan celengan babi yang belum diisi.
Mereka berdua sama-sama merupakan
orang muda yang cerdas dan penuh semangat, sehingga mereka pada akhirnya tumbuh
menjadi anggota masyarakat yang berguna. Sungguh merupakan suatu anugerah
besar, bahwa mereka menjadi anggota masyarakat yang hafal jalur kereta bawah
tanah, ataupun tahu bagaimana caranya mengirimkan paket khusus lewat kantor
pos! Bahkan, mereka pun kembali merasakan cinta, kadang hingga 75% ataupun 85%.
Waktu berlalu dengan begitu cepat,
dan sang pemuda telah berumur 32, sedangkan sang gadis sudah 30.
Pada suatu pagi hari bulan April
yang indah, ketika sedang mencari kedai kopi sebelum memulai hari, sang pemuda
berjalan dari barat ke timur, sedangkan sang gadis yang membawa secarik surat
berjalan dari timur ke barat, di sisi jalan yang sama di kawasan Harajuku, Tokyo.
Mereka saling berpapasan di tengah-tengah sisi jalan itu. Setitik sisa kenangan
yang terlupakan muncul kembali di dalam hati mereka masing-masing. Mereka
merasakan getaran dalam dada masing-masing. Dan mereka pun tersadar.
Ia gadis yang 100% sempurna untukku.
Ia lelaki yang 100% sempurna
untukku.
Namun, nyala kenangan mereka terlalu
lemah, dan pikiran mereka tidak lagi sespontan 14 tahun yang lalu. Tanpa
berkata-kata, mereka terus berjalan dan saling menghilang ke tengah kerumunan.
Selamanya.
Sungguh kisah yang sedih, ya?
~Fin.
Subscribe to:
Posts (Atom)
