Monday, March 11, 2013

My 10 Beatles Songs



Dulu, pernah ada yang tanya, “Worth it nggak sih kalau gue mulai mengenal & dengerin lagu-lagu Beatles?” Buat gue pribadi, ini pertanyaan yang rada janggal. Kurang-lebih mirip kalau seandainya si penanya itu nanya gini, “Worth it nggak sih kalau gue nafas?”

         Jadi ya, Beatles sangat layak dikenal & didengar. Kalau disuruh sebut satu alasan kenapa, jawaban gue karena musik Beatles adalah perpaduan sempurna antara estetika musikalitas dan aksesibilitas ke sejuta umat.  Produktivitas & variasi karya yang mereka keluarkan luar biasa, dan mereka benar-benar contoh musisi yang mau terus berevolusi dan mengeksplorasi lintas batas genre. 

                Gue bisa berbusa-busa seharian ngomongin sejarah dan perjalanan si Beatles dari album ke album, tapi untuk postingan ini gue lebih ingin share 10 lagu Beatles yang paling gue suka dari sekian ratus yang mereka publikasikan. Ini bukan 10 Lagu Beatles Terbaik ya, tapi 10 Lagu Beatles Favorit gue. Gue bukan Beatles Mania,  apalagi expert, hanya sekedar pendengar yang menikmati Beatles. Masih ada puluhan lagu Beatles yang belum pernah gue denger (*atau yang sudah pernah gue denger tapi masih belum benar2 “resapi”), jadi daftar ini benar-benar berdasar pada pengalaman pribadi dan opini subjektif =)



                Honorable Mentions: I Want to Hold Your Hand, Penny Lane, A Day in Life, Eight Days a Week, When My Guitar Gently Weeps, dll.

            10. Norwegian Wood (1965, album Rubber Soul, ditulis oleh John Lennon)

And when I awoke I was alone
This bird had flown
So I lit a fire
Isn't it good Norwegian wood?

          Pertama kali benar-benar kenal lagu ini setelah selesai baca Norwegian Wood-nya Haruki Murakami, novel yang judulnya memang terinspirasi dari situ. Bukunya lumayan bagus, bisa dikategorikan “galau berkelas”, haha. Norwegian Wood sendiri itu maksudnya jenis kayu pinus murahan; kata John Lennon, lagu ini berkisah tentang affair-nya dengan seorang wanita, dikemas dengan lirik yang nggak begitu serius. Yang paling gue suka dari lagu ini adalah melodi hook pas 20 detik pertama.

            9. We Can Work It Out (1965, Rubber Soul, Paul McCartney/John Lennon)

Try to see it my way,
Do i have to keep on talking till i can't go on?
While you see it your way,
Run the risk of knowing that our love may soon be gone.
We can work it out,
We can work it out

         Selain melodinya yang memang enak, gue sangat suka lirik lagu ini. Simpel tapi sangat mengena; tentang cekcok yang disebabkan perbedaan perspektif, tapi dibalut nuansa positif lewat kata-kata “We Can Work It Out”. Sangat mewakili pikiran gue juga kadang kalau lagi silang pendapat, haha. Stevie Wonder pernah meng-cover lagu ini dan sukses menghasilkan versi yang lumayan bagus + punya perbedaan dibanding versi aslinya. 

         8. Lucy in the Sky with Diamonds (1967, Sgt Pepper’s Lonely Hearts Club Band, John Lennon/Paul McCartney)

Picture yourself on a train in a station,
With plasticine porters with looking-glass ties.
Suddenly, someone is there at the turnstile:
The girl with kaleidoscope eyes.

              Salah satu lagu psychedelic Beatles dengan lirik yang nggak jelas dan sensasi nge-fly yang kental (tapi enak!) Bagian reffnya (“Lucy in the skaaaaay….with diamonds!”) itu khususnya, menghipnotis banget. Lagu yang kontroversial juga, kata om Paul McCartney, ini memang referensi ke LSD, drug rekreatif/inspiratif yang konon sering dikonsumsi personel Beatles. Kalau kata Lennon, lagu ini diinspirasi anaknya Julian, yang menggambar teman sekolahnya Lucy di langit dengan taburan berlian. Lalu mana yang benar? Mungkin dua-duanya!

Lucy itu nama yang punya makna tersendiri ke gue juga =)

7. From Me to You (1963, Paul McCartney/John Lennon)

If there’s anything that you want,
If there’s anything I can do
Just call on me,
And I’ll send it along with love from me to you

           Manis, ceria dan nggak bertele-tele. Begitulah karakteristik kebanyakan lagu-lagu awal Beatles yang membuat mereka booming. Sampai sekarang pun, lagu-lagu yang semodel I Want to Hold Your Hand, She Loves You, atau lagu ini, tetap enak didengar di tengah terjangan badai lagu-lagu sendu yang dinyanyikan dengan gaya ingin bunuh diri. Cinta memang tidak selalu manis, tapi sensasi jatuh cinta akan tetap jadi sesuatu yang sangat indah dan menyenangkan; dan Beatles selalu berhasil mengekspresikan sensasi tersebut, di antaranya lewat lagu ini dengan melodinya yang sangat catchy dan lirik yang tulus. Pernah kan ngerasa mau ngelakuin apa saja untuk orang tersayang?

6. In My Life (1965, Rubber Soul, John Lennon)

There are places I remember
All my life, though some have changed
Some forever not for better
Some have gone and some remain

             Dalam dan penuh rasa nostalgia. Nuansa lagunya sangat terasa bagaikan seseorang yang duduk dan mengenang tempat-tempat yang pernah dikunjunginya serta orang-orang yang pernah dikenalnya. Ada rasa bahagia, sedih, campur haru setiap denger lagu ini; kombinasi perasaan yang hanya bisa dipicu oleh musisi yang sangat istimewa.

               
5. Hello Goodbye (1965, Paul McCartney)

She say goodbye and I say hello
Hello, hello
I don't know why she said goodbye
I said hello
               
Lagu tentang dualisme; manis dan pahit, hitam dan putih, halo dan selamat tinnggal. Enak banget kalau dinyanyiin duet. Nada yang terkesan ceria dan tempo yang cepat agak menyembunyikan kegetiran lirik lagu ini yang penuh tanda tanya. Frase “I don’t know why you said goodbye, I said hello” masih suka menghantui gue. 

4. Yesterday (1965, Help!, Paul McCartney)

Yesterday
Love was such ane easy game to play
Now I need a place to hide away
Oh yesterday came suddenly

Ah, Yesterday. Siapa sih yang nggak pernah dengar lagu ini? Lagu terbaik yang pernah diciptakan tentang hubungan yang putus, titik.  Lagu ini juga simbol transisi Beatles dari gejolak keremajaan yang ceria dan lugu, ke melankolia kedewasaan yang getir tapi nggak cengeng. Lirik lagunya penuh permainan kata yang sangat introspektif dan menginspirasi jutaan balada patah hati yang muncul belakangan.

Jadi ingat dulu  pernah ada teman kuliah yang nyanyi lagu ini depan kelas…she nailed this song.

3. I’ve Just Seen A Face (1965, Help!, Paul McCartney)

I’ve just seen  a face
 I can’t forget the time or place we just met
She’s just a girl for me
And I want all the world to see we’ve met

Rata-rata orang yang duduk pertama kali dengerin album Beatles secara komplit ujungnya akan dapat sensasi “Gila ke mana aja gue, baru denger lagu ini?” Buat gue pribadi, I’ve Just Seen A Face adalah lagu yang seperti itu. Hook yang langsung merampok perhatian, vokal yang cepat mengalir bagai terjangan air bah, komposisi yang mempadukan berbagai genre berbeda, dan lirik yang tergolong jenius. 

Gue dulunya skeptis dengan konsep ‘cinta pada pandangan pertama’, but this song made me a believer =)


            2. Here Comes The Sun (1965, album Rubber Soul, ditulis oleh John Lennon)

Little darling 
The smiles returning to the faces
Little darling

It seems like years since it's been here
Here comes the sun
Here comes the sun, and I say it's alright        

Kontribusi dari George Harrison, anggota Beatles yang biasanya ada di bawah bayang-bayang Lennon dan McCartney. Selalu ingin senyum setiap dengar lagu ini, yang memang diaransemen dengan sangat cantik. Segelap apapun langit, matahari pasti akan muncul lagi dan semuanya akan baik-baik saja…spirit Harrison yang memang sedang banyak masalah sewaktu membuat lagu ini, amat sangat terasa sejuk.

1.    Let It Be (1970, Let It Be, Paul McCartney)

And when the night is clouded,
There is still a light that shines on me
Shine until tomorrow,
Let it be

             Sebelum gue buat daftar ini, gue sudah tahu kalau lagu ini adalah lagu Beatles yang paling gue suka. Bukan hanya lagu Beatles, tapi juga salah satu lagu favorit gue sepanjang masa. Kadar emosional di lagu ini luar biasa, dan menjadi penutup yang manis dari kisah panjang perjalanan The Beatles yang penuh suka dan duka. Setiap ada masalah, bawaannya pasti ingin dengar lagu ini.
 
And listening to this song always makes me feel better. Every single time.

***


(*this post is written and dedicated for a Beatles lover and a good friend, Puspita Ratna Kania. To me, she is like a Beatles song; full of energy, life spirit, excitement, emotion, and little surprises. Just like listening to a Beatles song, seeing her around always makes me feel better)

Tuesday, March 5, 2013

Mengenang Hugo Chavez, Sang Malaikat Bersayap Hitam




Pada sore hari tanggal 5 Maret 2013, Presiden Venezuela Hugo Chavez menghembuskan nafas terakhir. Dunia pun kehilangan salah satu sosok visionaris yang telah menancapkan kuku taringnya di peta politik dunia. 

Saya pribadi pertama kali mengetahui sosok Chavez saat membaca buku America’s Deadliest Export (Democracy –The Truth About US Foreign Policy and Everything Else) karya seorang jurnalis William Blum. Buku itu memaparkan secara gamblang mengenai borok-borok kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat, dan salah satu bagiannya berkisah tentang efek destruktif dari kampanye demokrasi (alias “kolonialisme halus”) negara adidaya itu di negara-negara Amerika Selatan/Latin yang kaya sumber daya alam. Di situ, disebutkan bahwa Chavez, yang telah menjabat sebagai presiden Venezuela sejak 1999, adalah salah satu dari sedikit sosok berpengaruh di dunia yang terang-terangan memposisikan diri sebagai musuh dari kebijakan Amerika. 


           Chavez seorang yang keras, vokal, dan luar biasa berprinsip. Di saat sebagian besar pemimpin dunia memilih menjadi diplomat taktis yang penuh kehati-hatian dan “main belakang”, tidak pernah ada yang ambigu dari setiap sikap dan keputusan politik Chavez—paling tidak di depan mata publik. Mungkin karakteristik itu bukan hal yang bijaksana dan entah sudah berapa kali Chavez lolos dari percobaan pembunuhan, tapi faktanya beliau berhasil terpilih sebagai pemimpin Venezuela dalam empat periode berturut-turut sebelum akhirnya dikalahkan oleh penyakit kanker yang sudah menggerogotinya sejak dua tahun terakhir (*seandainya tidak wafat, Chavez akan terus menjabat hingga tahun 2019 dalam periode kepresidenannya yang keempat).



       Hugo Chavez kecil, yang orangtuanya berprofesi sebagai guru sekolah, tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penghasilannya pas-pasan. Kesulitan masa kecil ini menjadi bibit pemikiran Chavez dan seiring dengan kariernya selanjutnya di dunia militer, ia pun memproklamirkan diri sebagai seorang sosialis sejati dengan Simon Bolivar sebagai tokoh panutannya. Begitu memegang tampuk kekuasaan sebagai pemimpin Venezuela, Chavez tidak buang-buang waktu memaparkan rencana ambisiusnya menjadikan negara itu sebagai “surga sosialis” sekaligus menyampaikan pidato-pidato kontroversial mengenai kebusukan kapitalisme dengan suaranya yang khas menggelegar. 

       Chavez tidak hanya sekedar asal cuap-cuap. Ia juga pintar menggunakan aset sumber daya minyak negaranya yang berlimpah sebagai senjata politik, sekaligus mengumpulkan sekutu-sekutu regional seperti Evo Morales (Bolivia) dan Daniel Ortega (Nikaragua). Pengaruh filosofi Chavez bukan hanya sebatas lingkup negaranya, tapi juga menyebar di seluruh kawasan Amerika Latin dan mengubah peta geopolitik benua itu selama satu dekade terakhir. Ia rajin menggalakkan program-program sosial yang revolusioner, memandu acara talk show yang diisi langsung oleh dirinya, dan sangat pintar memposisikan diri sebagai “salah satu dari rakyat.” Tak heran, ia sangat dielu-elukan oleh simpatisan di negaranya dan  sebagian kalangan di dunia internasional. 

       Namun, dunia politik tidak pernah lepas dari keabu-abuan. Di balik imejnya yang sangat populis, banyak pula kritikan pedas yang menerpa Chavez selama periode kepemimpinannya. Ia dianggap gagal menangani perekonomian Venezuela, danwalaupun tingkat pendapatan masyarakat memang meningkat selama eranya, peningkatan itu nyaris tak berarti akibat melemahnya nilai uang Venezuela sendiri. Negara ini mengalami inflasi sampai dua digit, lonjakan tingkat kriminalitas, dan terlalu bergantung pada minyak sebagai sumber pendapatan negara—hal yang akan menjadi masalah besar bila terjadi krisis harga di pasar global.     Ironisnya lagi, pada 2012 Venezuela tercatat sebagai negara Latin paling korup menurut survey tahunan International Transparency (IT). 

       Di tengah isak tangis, banyak pula yang diam-diam mensyukuri kepergian Chavez—dan sebagian di antaranya dari kalangan orang Venezuela sendiri. Bukan rahasia umum lagi bahwa Chavez tidak sungkan menekan media domestik yang berani mengkritik kebijakannya, ataupun menggunakan strategi-strategi yang  kurang elok untuk dapat terus memenangkan pemilihan. Di saat kalangan oposisi tidak ada yang berdaya menjatuhkannya, kanker yang akhirnya mengalahkan Chavez mungkin menjadi blessing in disguise bagi sebagian kalangan yang menginginkan perubahan di Venezuela. 


                Terlepas dari itu semua, kharisma dan kekuatan kepribadian Chavez telah menginspirasi sejumlah orang di dunia. Sulit untuk menemukan sumber media yang dapat benar-benar objektif menilai Chavez, dan mungkin kebenaran sebenarnya mengenai rezimnya tak akan pernah terungkap. Walau begitu, saya memilih untuk percaya bahwa idealism dan segala impiannya untuk memajukan Venezuela memang benar-benar tulus. Hugo Chavez tidak seharusnya "hanya" dikenang oleh dunia sebagai "si anti-Amerika", melainkan sebagai sosok patriot dengan segala kelebihan dan kekurangannya di tengah dunia politik yang sangat kompleks dan abu-abu.

                Berikut beberapa kutipan dari Chavez:

                "Capitalism is the way of the devil and exploitation. If you really want to look at things through the eyes of Jesus Christ -- who I think was the first socialist -- only socialism can really create a genuine society." 


                "Yesterday the devil came here. Right here. And it smells of sulfur still today."(tentang George Bush)


"Israel criticizes Hitler a lot, so do we, but they've done something very similar, even worse, than what the Nazis did."


“Christopher Columbus was the spearhead of the biggest invasion and genocide ever seen in the history of humanity." 


“I am not the devil”

Hugo Chavez dipandang bagaikan malaikat oleh sebagian orang, ataupun setan berwajah malaikat oleh kalangan lainnya. Saya memilih untuk melihat sosoknya sebagai sang malaikat bersayap hitam. 

Rest in peace, Hugo Chavez….and good luck, Venezuela.

Thursday, February 7, 2013

"I've Just Seen A Face"


I've just seen a face
I can't forget the time or place that we just met
She's just a girl for me
And I want all the world to see we've met.
(The Beatles)


At the time, I was idly browsing Facebook. I don't really pay much attention to it nowadays, but that day something caught my eye. It was the picture of my friend with her four female friends. 

The girl in the middle of that picture, sitting right next to my friend, has the most perfect smile ever. 

I know her. Sort of. We used to study in the same faculty. Never really had the chance to get close to her, talk to her, or even knowing her name. Five years, and we just kind of passed each other in-between buildings and classrooms. 

Then, I forgot about it. Until I met her again in central library. We are both using the computers. Unfortunately, she sat just behind me. If only she sat next to me, I probably would have asked for her name. Chat a little bit. Get to see that wonderful smile again. But, as it is, nothing happened that day. 

Some days later, I finally got her name. Looked her up on Facebook. Hit the Friend Request button. 

This is the first time I did this kind of thing. Don't know why. Also don't know what to talk about later, if she did indeed accept. Heck, probably nothing significant will ever happen from this. But then, it's worth a try. 

I guess there's just something about that heart-warming smile.

Friday, November 16, 2012

Filippo Inzaghi & Makna Spesialisasi


Sewaktu final kejuaraan Euro 2008 lalu antara Spanyol vs. Italia, saya nobar bersama dua teman karib saya. Saat tim Italia memasuki lapangan, kami pun bernostalgia mengenang masa 1990-an saat Liga Seri A Italia tengah jaya-jayanya dan sangat digandrungi banyak orang Indonesia. Ya, waktu itu memang banyak sekali pemain sepakbola Italia yang sangat kharismatik dan berkesan: Alessandro Del Piero, Roberto Baggio, Franco Baresi, Paolo Maldini, Fransesco Totti, Gianfranco Zola....memang sekarang Italia juga masih punya banyak pemain bagus, tapi entah kenapa rasanya generasi sekarang kalah jauh daya magnetnya dibandingkan yang generasi 90-an itu. 

Obrolan kami pun beralih ke satu topik: “Siapa pemain favorit lo sepanjang masa dari Italia?” Teman saya yang pertama menjawab Del Piero, mungkin karena dia fans berat Juventus. Teman yang kedua jawabannya Totti, mungkin karena dia fans AS Roma.  Saya berpikir sebentar, lalu menjawab dengan mantap: Filippo Inzaghi. 

Kedua teman saya agak kaget. Kok Inzaghi? Ya, memang dia punya track record lumayan mantap: pernah juara Piala Dunia sekali, juara Liga Champion dua kali, juara Liga Italia sekali, dan runner-up top skor sepanjang masa di kejuaraan antarklub Eropa (nomer satunya si Raul, legenda Real Madrid). Dia striker ulung yang sudah mencetak ratusan gol untuk AC Milan, Juventus dan timnas Italia. Tapi, banyak juga komentar sinis soal Inzaghi, terutama menyangkut gaya mainnya.
Johan Cruyff, legenda persepakbolaan Belanda: “Inzaghi banyak mencetak gol...tapi dia tidak memiliki kualitas apa-apa.”
            Sir Alex Ferguson, manajer legendaris Manchester United: “Filippo Inzaghi terlahir dalam posisi offside.”

            Ya, gaya main si Inzaghi ini memang sangat khas dan banyak dikritik. Ia seorang poacher, tipe penyerang oportunis. Sekilas kalau orang hanya melihatnya sebentar, kesannya dia pemain yang sangat malas dan payah. Tekniknya biasa-biasa saja. Fisiknya tidak begitu kuat. Lompatan atau daya sundulnya payah. Tapi Inzaghi sangat jago dalam satu hal: penempatan posisi.


Inzaghi menghabiskan sebagian besar waktu pertandingan berkeliaran di sekitar lini pertahanan terakhir terakhir lawan, menunggu bola terobosan untuk disambut menjadi gol. Seringkali ia memang terjebak offside, tapi sekalinya ia berhasil lolos dan menguasai bola di kotak penalti....99% akan terjadi gol. Begitulah caranya bermain, dan para pengkritik Inzaghi selalu menggerutu kalau memang itu satu-satunya trik yang ia bisa; ia bukan tipe penyerang yang bisa turun menjemput bola, mengatur serangan, mendribel bola melewati beberapa pemain, atau melepaskan tendangan jarak jauh nan dahsyat.

Tapi, faktanya Inzaghi adalah seorang striker. Striker bermain dan dibayar untuk mencetak gol. Inzaghi bukan salah satu pemain terbaik dunia yang nyaris bisa segalanya, tapi ia berhasil menunaikan kewajibannya dengan sangat efektif dan dengan caranya sendiri. Ia sadar betul dimana kelebihan dan keterbatasannya sebagai seorang pesepakbola, dan hal itu sangat membantunya membangun jati diri sebagai pemain dan mencapai karier sukses. 

Tentunya, kita sebagai manusia harus terus berusaha mencari cara untuk mengembangkan diri kita dan mempelajari hal-hal baru. Tapi terkadang, ada saatnya kita berprioritas. Spesifikasi. Fokus di hal-hal tertentu yang memang merupakan kelebihan kita. It’s better to be really great at one thing rather than being average at many things. Mungkin nggak berlaku untuk semua orang, tapi prinsip itu sangat cocok untuk saya pribadi.   

Mungkin ada beberapa manusia multi-talenta yang (kesannya) bisa segalanya, tapi saya bukan salah satu dari mereka. Saya memilih untuk menekuni hanya beberapa hal tertentu yang memang sangat saya minati; saya memilih untuk lebih berusaha jadi spesialis alih-alih manusia sempurna serbabisa, karena saya percaya di dunia luas ini ada rekan-rekan yang kelebihannya bisa menutupi kekurangan saya dan begitu pula sebaliknya. Seperti Inzaghi yang juga saling melengkapi dengan rekan-rekan setimnya, bagai satu potongan dari kepingan puzzle. 

Satu lagi hal yang penting (paling penting, malah) tentang Inzaghi: ekspresinya setelah mencetak gol sangat khas. Ekspresi yang membuat saya nggak bisa kesal ke orang ini, biarpun ia pernah mencetak dua gol yang menghancurkan tim kesayangan saya Liverpool di final Liga Champion 2007.  



....The guy really loves what he’s doing, eh?

Inzaghi kini sudah pensiun dan rumornya akan meneruskan karier di dunia kepelatihan. Saya akan kehilangan pergerakannya yang sangat cerdik dan bagai bayangan. Saya akan kehilangan sentuhan penyelesaian akhirnya yang mematikan. Tapi, lebih dari segalanya, saya akan kehilangan ekspresi bahagia dan luapan emosinya setiap baru mencetak gol. Bukti kecintaan dan hasratnya akan permainan ini. 

Arrivederci, Super Pippo.

Friday, October 5, 2012

Tentang Penerjemahan




Entah sejak kapan saya berminat untuk menekuni karier di bidang penerjemahan.  Yang jelas, sewaktu kecil saya nggak paham sama sekali apa itu konsep penerjemahan.  Di pikiran saya waktu itu yang lugu-lugu-tolol, kalau ada buku yang bahasanya Indonesia ya berarti penulisnya pasti orang Indonesia. Nggak terpikir di benak saya kalau sebenarnya ada perantara di balik proses transfer ide dan konsep antara berbagai belahan dunia, yang menghubungkan dua latar belakang bahasa dan kultur yang berbeda sehingga bisa saling memahami. 

Baru setelah menekuni kuliah di Program Studi Inggris, saya benar-benar akrab dengan penerjemahan. Kebanyakan mahasiswa sastra atau bahasa harusnya tahu kalau menerjemahkan itu salah satu sumber pemasukan sampingan paling potensial saat masa kuliah (selain ngajar):  lumayan profitable, bisa dikerjakan selagi senggang jadwal perkuliahan, dan orderan nyaris nggak pernah sepi dari yang minta diterjemahkan tesis makalah hingga proposal bisnis. Yang saya paling suka, kompetensi penerjemahan pada dasarnya berbasis praktik alih-alih teori. Setiap ada yang tanya ke saya tentang kiat-kiat penerjemahan, saya selalu menjawab, “Banyak-banyak baca teks asing. Sering riset via internet. Tapi, di atas segalanya: latihan, latihan, latihan, dan terus latihan.”

Saya mengibaratkan penerjemahan itu seperti permainan catur: gampang dipelajari, tapi susah untuk dikuasai. Di atas kertas, siapapun yang punya kompetensi dasar bahasa pasti bisa menerjemahkan, apalagi di zaman sekarang yang berbagai kamus sudah bisa diakses relatif mudah. Pertanyaannya: apakah semua orang bisa menerjemahkan dengan baik? Apa semua orang bisa dengan mudah meniti karier jadi seorang penerjemah? Jawabannya: tentu tidak.

Penerjemahan membutuhkan kompetensi bahasa asing dan bahasa asal yang harus sama baiknya. Perlu ketelitian dan kesabaran tingkat tinggi. Perlu wawasan yag hanya bisa diperoleh dari banyak membaca. Perlu disiplin dan profesionalitas.  Perlu waktu bertahun-tahun untuk terus memoles semua itu. Semua orang mungkin bisa sesekali menerjemahkan, tetapi sejujurnya memang tidak semua orang bisa berkarier sebagai penerjemah.

Saya sudah sekitar tiga-empat tahun banyak berkecimpung dalam dunia penerjemahan, and I can honestly say that it is one of the hardest and most stressful careers ever. Saya masih cenderung mati kutu setiap menghadapi teks legal, yang sangat menuntut pengetahuan teknis. Saya seringkali gigit jari menunggu bayaran yang nggak kunjung datang. Saya pernah dicerca klien yang kurang puas dengan hasil terjemahan saya. Saya masih sering kurang cermat dan banyak melakukan kesalahan-kesalahan tolol yang harusnya sudah nggak terjadi lagi. Saya bahkan pernah salah perhitungan (baca: serakah) dan menerima order di saat saya nggak dalam kondisi yang tepat untuk bisa menyelesaikan order itu. 

Saya nggak malu mengungkapkan itu semua, karena memang kenyataannya nggak akan ada orang yang bisa langsung jago dan sukses dalam apapun. Ini semua bagian dari proses. A really tough and bloody process, full of sleepless nights and moments of frustration. I still have so much to learn and improve. However, that awesome feeling I got when I look at a completed text? That sense of adrenaline rush when everything clicked and I can successfully transferred everything into different language and culture? 

That makes everything worth it.