Saturday, March 27, 2021

Tantangan Film 2021 #4: Wolfwalkers

 Ada film yang menampilkan peristiwa sejarah dengan seakurat mungkin sesuai data fakta. Ada yang menampilkan peristiwa sejarah, tapi dengan bumbu narasi fiktif yang didramatisir. Ada yang… mengambil konflik bersejarah, mengubah drastis hasilnya, dan menambahkan elemen seperti manusia serigala di hutan.

Yang terakhir itulah yang jadi tema tantangan kali ini (‘film dengan revisi sejarah’): Wolfwalkers, karya animasi Irlandia dari studio Cartoon Saloon.


Wolfwalkers (2020)

Sutradara: Tomm Moore, Ross Stewart
Durasi: 103 menit
Pengisi Suara: Honor Kneafsey, Eva Whittaker, Sean Bean, Simon McBurney, Maria Doyle Kennedy
Staf Kunci: Will Collins (penulis naskah); Tomm Moore, Ross Stewart (pengarang cerita); Bruno Colais, Kila (musik); Richie Cody, Darren Holmes, Darragh Byrne (editing)
Studio Animasi: Cartoon Saloon, Melusine
Distributor: Wildcard/Apple Inc. (bisa ditonton di layanan streaming Apple+)

Wolfwalkers melengkapi trilogi tidak resmi Cartoon Saloon setelah Secret of the Kells dan Song of the Sea. Walau tidak terhubung langsung secara narasi, ketiganya memiliki akar serupa pada sejarah dan folklor Irlandia, negara dengan kekayaan alam dan mitologi yang berlimpah. Walau biasanya saya lebih suka karya animasi dari negara timur (khususnya Jepang—maklum weaboo :v) ketimbang barat, Cartoon Saloon bisa dibilang salah satu studio animasi favorit saya dengan gaya visual dan penuturan cerita yang konsisten di papan atas. Karya mereka juga punya ciri khas kuat, dan kali ini Tom Moore dkk. memadupadankan mitologi manusia serigala di hutan Irlandia dengan sejarah penaklukan negara itu oleh jenderal Inggris yang dijuluki 'Lord Protector' (jelas mengacu kepada tokoh sejarah Oliver Cromwell).

Seperti banyak film animasi masa kini, Wolfwalkers memilih anak perempuan sebagai protagonisnya: Robyn, anak gadis dari pemburu yang ditugaskan Lord Protector untuk ‘membersihkan’ hutan Irlandia dari kawanan serigala terakhir. Robyn yang bersemangat ingin membantu ayahnya, kemudian bertemu dengan gadis serigala, Mebh, yang kemudian mengubah jalur kehidupan mereka berdua untuk seterusnya…

Satu hal yang jelas harus disebut pertama: bangun latar (Irlandia abad ke-17), desain karakter, dan teknik animasi dari film ini masuk level dewa. Mayoritas film ini digambar tangan dengan sentuhan efek 3 dimensi di sejumlah momen krusial, pilihan warna yang cemerlang, serta penampakan objek yang begitu elastis dan kaya tekstur. Ada banyak ragam nuansa visual pada film ini yang ditampilkan sama baiknya, baik itu pemukiman ramai penduduk dengan warna cerah, maupun hutan pada malam hari dengan nuansa mistis, misterius, dan dipenuhi semburat warna gelap. Lalu, ada bagian animasi yang bisa dibilang paling mencolok dari film ini: wolf vision atau visualisasi dari sudut pandang serigala. 

Adegan 'penglihatan serigala' tersebut tak hanya impresif dari segi teknis (memakan banyak sekali waktu dan tenaga untuk digambar di ribuan lembar kertas, demi efek surreal yang autentik dan tak bisa ditiru efek komputer), tapi juga membuat momen narasi penting jadi kian terasa hidup dan seru. Tentunya, unsur audio juga berperan penting memperkuat estetika film ini, dan saya pun sangat menikmati lantunan musik folk khas Irlandia dengan tembang 'Running with the Wolves' sebagai lagu tema. Lagu ini dikomposisi dan dinyanyikan oleh Aurora, musisi Norwegia yang aura dan musikalitasnya sangat pas dengan jenis film seperti ini.


Lantas, ceritanya sendiri bagaimana? Seperti karya Cartoon Saloon lainnya, Wolfwalkers kaya dengan tema. Ada tema besar soal identitas kebangsaan, kolonialisme, pelestarian lingkungan hidup, serta isu spesifik terkait Irlandia, maupun tema yang lebih personal seperti hubungan ayah dengan anak perempuannya (mengingatkan saya pada film Cartoon Saloon di luar trilogi Irlandia ini, The Breadwinner, yang berlatar di Afghanistan). Walau demikian, padatnya tema bukan berarti filmnya jadi susah dicerna atau terlampau sulit untuk anak-anak (atau orang dewasa yang malas mikir :v). Berbagai elemen tersebut disampaikan secara halus tanpa didiktekan ke penonton atau jadi memperlambat cerita, disokong oleh kinerja jempolan para pengisi suara; khususnya Honor Kneafsey sebagai tokoh utama, Sean Bean sebagai ayahnya, dan Eva Whittaker sebagai si gadis serigala. Mereka mampu elegan membawakan pesan sentral tentang persahabatan dan upaya saling memahami tanpa memandang perbedaan.

Dengan kata lain, penonton bisa menyimak serius unsur-unsur sosiopolitik di filmnya, dan bisa juga menikmati dengan hanya fokus ke inti cerita dan karakternya. Bagi peminat sejarah, akan menarik melihat bagaimana Wolfwalkers menggambarkan Oliver Cromwell dan merevisi hasil akhir dari upayanya menaklukkan tanah Irlandia. Ini jelas revisi 'indah' yang hanya bisa terjadi di dunia dongeng, tapi mau tak mau saya jadi turut berangan-angan... alangkah lebih baiknya dunia kalau generasi mudanya seperti Robyn dan Mebh!

Bagi dunia film animasi, 2020 adalah tahun yang bagus. Ada tiga film luar biasa dari beragam kultur yang dirilis pada tahun itu: A Whisker Away, Soul, dan Wolfwalkers. Soul jelas yang paling 'punya nama' dengan pesan yang amat relevan di masa sekarang, A Whisker Away punya pesona khas animasi Jepang dan karakter-karakter yang patut disayangi, sedangkan Wolfwalkers paling impresif dari segi visual dan rasanya akan terus memberikan hal baru saat ditonton ulang. Semoga ke depannya, akan terus banyak film animasi dengan kreativitas, kualitas, dan pesona seperti judul-judul ini... 

Sunday, March 14, 2021

Tantangan Film 2021 #3: Inhuman Kiss

Dari Israel, saya berlanjut ke Negeri Gajah Putih untuk memenuhi tantangan nonton berikutnya: 'film dari Thailand'. Tema ini disumbang oleh sobat nonton saya, Dion, penggemar film Thailand merangkap fanboy aktris Pimchanak 'Baifern' Luevisadpaibul. Dibanding dia, jam terbang saya nonton film Thailand jauh lebih sedikit; saya hanya pernah nonton Shutter dan Bad Genius, tapi saya suka dua-duanya (terutama Bad Genius yang merupakan salah satu film favorit saya dalam beberapa tahun terakhir). Jadi, saya lumayan bersemangat untuk mengeksplorasi lagi khasanah perfilman negara ini.

Setelah mengobok-obok katalog film Thailand di Netflix (yang koleksi film Asia Tenggaranya cukup oke), pilihan akhirnya jatuh kepada film horor Inhuman Kiss


Inhuman Kiss (2019)

Sutradara: Sitisiri Mongkolsiri
Durasi: 122 menit
Pemain: Phantira Pipityakorn, Oabnithi Wiwattanawarang, Sapol Assawamunkong, Surasak Wongthai
Staf Kunci: Chukiat Sakveerakulr (penulis naskah); Pithai Smithsuth (sinematografi);  Pithai Smithsuth (musik); Manussa Vorasingha, Abhisit Wongwaitrakarn (editing)
Distributor: M Pictures/Netflix (bisa ditonton di website Netflix)

'Bintang utama' film ini adalah krasue, arwah kepala wanita terbang dengan untaian organ-organ di bagian bawahnya. Bagi penggemar film horor Indonesia, pastinya sudah lumayan familiar dengan jenis hantu ini, yang di sini kita sebut 'pelasik'. Rupanya sosok ini bisa dibilang 'milik bersama' kawasan Asia Tenggara, karena banyak negara yang memiliki legenda tentangnya dengan versi masing-masing. 

Krasue dalam film ini dikisahkan tengah meneror sebuah desa pada periode 1940-an di Thailand, dengan memangsa hewan ternak para penduduk di malam hari. Di desa ini, tinggal gadis remaja bernama Sai (Phantira Pipityakorn), yang tumbuh bersama  teman-teman masa kecilnya, Jerd (Sapol Assawamunkong), Noi (Oabnithi Wiwattanawarang), dan Ting (Darina Boonchu). Pada suatu hari, Noi yang sudah lama meninggalkan desa, pulang kampung bersama pasukan pemburu krasue yang dipimpin seorang pria tua obsesif, Tad (Surasak Wongthai). Cerita berkembang menjadi roman cinta segitiga antara Sai, Noi, dan Jerd, sementara perburuan krasue terus berlanjut dan rahasia kelam pun satu-persatu terkuak...


Satu hal yang mungkin perlu dicamkan calon penonton film ini: jangan berekspektasi akan nonton film horor 'konvensional' yang bikin merinding atau jerit-jerit ala orang kesurupan. Malah, saya merasa ini sebenarnya film romansa dengan bumbu makhluk horor, bukan sebaliknya. Selain di adegan pembuka yang lumayan mencekam, jarang ada trik film horor pada umumnya untuk mengagetkan atau menakut-nakuti penonton dengan jump scare, musik seram, dan sebagainya. Adegan menegangkan dari pertengahan filmnya juga bisa dibilang lebih menjurus thriller daripada horor.

Bukannya berarti film ini mengecewakan, justru ada pendekatan unik dengan lebih menekankan pada hubungan antarkarakternya. Apalagi, Inhuman Kiss mendekonstruksi sosok krasue dan nuansa horor yang identik dengannya secara menarik. Alih-alih balas dendam dan pertumpahan darah, krasue di sini dipakai untuk merefleksikan sisi lembut dari suatu 'monster' dan kisah cinta tanpa syarat antara manusia dan monster tersebut.
      

Satu hal yang saya apresiasi: film ini tidak memanjang-manjangkan misteri tentang identitas sosok krasue yang menghantui desa, yang dari awal sangat mudah ditebak. Pengungkapannya  dilakukan secara cepat, sehingga ada banyak waktu untuk mengeksplorasi penderitaan sang krasue dan ketulusan seorang pemuda yang berusaha membantu menyembunyikan identitasnya. Penonton jelas diposisikan untuk berada di pihak mereka, bukannya sebagai pihak yang merasa ngeri dengan si krasue. Dialog dan/atau akting para pemainnya tidak selalu berhasil menggugah, tapi pembangunan atmosfer dan naik-turunnya ketegangan cerita berhasil membuat saya konsisten terhanyut sepanjang film.

Tema tentang simpati terhadap sosok 'monster' dan kisah asmara antara manusia dengan 'monster' sebenarnya bukan hal baru dari sejak zamannya Frankenstein hingga Twilight. Namun, yang jadi tantangan tersendiri di sini adalah bagaimana 'memanusiawikan' krasue, sosok yang citranya mengerikan nan menjijikkan (masih jauh lebih gampang menampilkan vampir kece, misalnya, dibanding kepala cewek yang melayang-layang dengan organ masih gelantungan). Di sinilah tata artistik dan efek visual sangat berperan, dan sukses menampilkan sosok krasue yang semakin lama semakin terlihat memukau dalam ketragisannya. Estetika visual filmnya memang menonjol, dari pemilihan warna yang indah dan halus, hingga adegan klimaks luar biasa dengan efek laga yang tidak kalah dahsyat dibandingkan film superhero Barat.


Memang ada beberapa elemen dalam naskahnya yang rasaya bisa lebih dipoles lagi; saya sendiri ingin melihat lebih banyak adegan masa kecil, tidak hanya sekali di awal. Namun, pada dasarnya nuansa dan pendekatan yang dipilih filmnya sudah bagus, menghasilkan suatu roller coaster emosional dengan sosok monster yang menyedihkan...

Friday, February 26, 2021

Gangguan Mental: Musuh Tak Kasat Mata di Dunia Kerja



Bekerja sampai larut malam dan di akhir pekan.

Masih membalas dan mengecek pesan soal pekerjaan, walau sudah bersama keluarga di rumah.

Merasa letih dan menunjukkan tanda-tanda depresi, tapi tidak bisa ambil cuti atau istirahat karena tekanan tanggung jawab yang dibebankan kantor.

Saat ini, fenomena-fenomena tersebut sudah bukan hal aneh lagi di kehidupan sehari-hari masyarakat perkotaan. Pasca tahun 2000, teknologi internet, pesan instan, dan komunikasi jarak jauh yang kian mudah memang membuat kehidupan terkesan lebih praktis. Namun, terdapat dampak berbahaya di baliknya, khususnya bagi pelaku dunia kerja. Siklus produksi menjadi lebih cepat, dan batas antara ranah pribadi dan ranah profesional pun kian mengabur. Pekerjaan senantiasa membuntuti karyawan bahkan setelah ia pulang ke rumah dari kantor, karena kini atasan, rekan kerja, maupun klien bisa menghubunginya di mana pun dan kapan pun mereka merasa perlu.

Dengan ditambah tekanan untuk menghidupi keluarga, memenuhi tenggat waktu, atau menjaga hubungan baik dengan kolega, tidak heran makin banyak karyawan yang mengalami gangguan mental. Menurut perwakilan Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (Perdoki), Nuri Purwito Adi, pada 2017, sebesar 60,6% pekerja industri kecil menengah di Indonesia mengalami depresi, sedangkan 57,6% mengidap insomnia. Depresi sendiri dapat berbuntut ke masalah kesehatan fisik, atau ketidakharmonisan hingga bahkan kekerasan dalam rumah tangga. Hal ini jelas meresahkan, ditambah lagi kesadaran masyarakat Indonesia khususnya di dunia kerja yang masih tergolong rendah terhadap isu kesehatan mental.


Manajemen dan Rekan Kerja Sebagai Pelindung Kesehatan Mental

Tentunya, setiap manusia punya tanggung jawab untuk menjaga kesehatannya sendiri, termasuk kesehatan mental. Namun, patut diingat bahwa banyak faktor yang membuat karyawan memilih untuk menahan atau menyembunyikan gangguan mentalnya. Faktor itu bisa berupa tekanan finansial, tuntutan berlebihan dari atasan atau kantor, rasa takut akan stigma negatif terhadap orang-orang yang mengalami gangguan mental, maupun kurangnya alternatif tempat kerja lain yang lebih akomodatif bagi kesehatan mental si karyawan.

Dalam budaya kantor di Indonesia pun, masih sedikit karyawan yang menyadari bahwa mereka bisa memperoleh surat izin tidak bekerja dari psikiater, seperti halnya saat mereka mengalami gangguan kesehatan fisik. Di sisi lain, pemberi kerja pun tidak bisa sewenang-wenang memanfaatkan karyawan di atas batas kewajaran, atau acuh membiarkan karyawan bekerja dengan cara yang berisiko menyebabkan gangguan mental. Hal ini bisa berupa pemaksaan lembur di luar jam kerja normal, atau dalam bentuk yang lebih halus, penciptaan budaya kerja yang membuat karyawan selalu mendahulukan pekerjaan dibanding kesehatan mentalnya sendiri.

Dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan Republik Indonesia pasal 35 ayat 3, pemberi kerja diwajibkan untuk memberikan perlindungan yang mencakup kesejahteraan, keselamatan dan kesehatan baik mental maupun fisik tenaga kerja. Dengan kata lain, pemberi tenaga kerja wajib memastikan bahwa ia sudah menyediakan lingkungan kerja yang sehat bagi karyawan, termasuk dari aspek mental. Hal ini terwujud dari terciptanya budaya kerja yang sehat dan tidak membebani kondisi mental karyawan hingga melampaui batas.



Budaya kerja yang sehat tidak akan terwujud bila pemberi kerja mengedepankan profit semata, dan menerapkan jam kerja yang amat mengganggu keseimbangan antara kehidupan pribadi karyawan maupun di kantor. Pada kenyataannya, mayoritas waktu tenaga kerja usia produktif sudah akan terpakai untuk bekerja dari Senin sampai Jumat, sehingga seharusnya waktu di luar jam kerja normal itu bisa mereka nikmati tanpa gangguan pekerjaan. Empati harus ditanamkan dalam diri setiap karyawan untuk berusaha tidak mengganggu rekannya pada jam istirahat mereka, kecuali dalam situasi yang benar-benar darurat.

Dalam hubungan dengan pihak ketiga berupa klien, manajemen suatu usaha perlu tegas menginformasikan rentang jam kerja mereka sendiri sehingga tidak ada pemaksaan dari salah satu pihak untuk mengikuti jam kerja yang lainnya. Hal ini seringkali terlupakan, karena prioritas yang lebih mengedepankan hubungan baik dengan pihak ketiga alih-alih kondisi karyawan sendiri. Padahal, apabila karyawan bekerja dalam kondisi mental yang tidak prima, pemberi kerja sendiri yang akan rugi karena hasil kerja karyawan tersebut tidak akan optimal atau karyawan tersebut ujungnya beralih ke pekerjaan lain karena tidak merasa betah.

Penyusunan kebijakan manajemen, khususnya departemen Sumber Daya Manusia (SDM), harus mampu mengidentifikasi aspek kebutuhan psikis karyawan yang tidak bisa juga dipukul rata. Setiap manusia punya karakteristik dan kebutuhan yang berbeda-beda, sehingga manajemen tidak bisa berasumsi bahwa satu kebijakan saja sudah pasti membawa dampak positif bagi semua karyawan. Jangan memaksakan kegiatan outing atau jalan-jalan bersama untuk semua karyawan, misalnya, karena bisa saja ada orang yang hanya ingin istirahat atau enggan kalau waktu bersama keluarga yang sudah sedikit jadi makin berkurang.

Manajemen bisa mendengarkan curahan hati dan keluh kesah karyawan melalui sebuah forum internal terbuka. Namun, yang lebih penting adalah adanya rasa perhatian secara tulus yang tercermin dari tindakan sehari-hari. Divisi SDM bisa mengingatkan karyawan bahwa mereka punya jatah cuti yang belum terpakai, misalnya. Saat mengirim karyawan untuk tugas lapangan, kantor bisa mengambil langkah-langkah sebelumnya untuk memastikan kesehatan dan keamanan karyawan tersebut sebelum bertugas. Alih-alih saling menyalahkan, sesama rekan kerja patutnya membiasakan diri untuk memberi kritik konstruktif dan menyelesaikan masalah dengan tidak terbawa emosi.

Pada akhirnya, semua kembali ke budaya tempat kerja. Begitu banyak orang usia produktif yang lebih sering berinteraksi dengan rekan kerja mereka dibanding dengan keluarga atau teman-teman mereka sendiri. Jika hal ini memang tidak bisa dihindari, paling tidak usahakanlah agar interaksi tersebut berjalan secara sehat dan positif. Ingat, manusia bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja.

Saturday, February 20, 2021

Tantangan Film 2021 #2: Sand Storm

Sekitar satu dekade lalu, saya mulai tertarik pada dunia film di luar ranah lokal atau Hollywood, alias film-film dari berbagai negara yang biasanya nggak ditayangkan di bioskop (bahasa kerennya: ‘world cinema’). Menarik rasanya melihat refleksi kehidupan orang-orang dengan kultur, bahasa, dan filosofi yang berbeda dengan yang biasanya saya lihat sehari-hari. Pada waktu itu pun, saya jadi punya aspirasi untuk menonton film-film dari sebanyak mungkin negara yang berbeda…. anggap saja ini cara realistis dan hemat untuk keliling dunia, hahaha.

Kini, nonton film-film seperti itu jadi lebih mudah berkat berbagai pilihan streaming yang menawarkan judul dari beragam festival film internasional, nggak perlu lagi mondar-mandir cari tempat download esek-esek. Jadi saya pun kembali ‘keliling dunia’ dengan sekalian memenuhi salah satu tema dari tantangan film tahun ini: film dari negara yang belum pernah saya tonton. Untuk kategori ini, pilihan saya jatuh pada Sand Storm, film Israel pemenang penghargaan di Sundance Festival tahun 2016. 


Sand Storm (2016)

Sutradara & Penulis Naskah: Elite Zexer
Durasi: 87 menit
Pemain: Lamis Ammar, Ruba Blal, Hitham Omari, Khadija Al Akel
Staf Kunci: Shai Peleg (sinematografi); Nir Adler (penata artistik); Ronit Porat (editing)
Distributor: Pyramide Distribution (bisa ditonton di website Netflix)

Film besutan sutradara berkebangsaan Israel, Elite Zexer, ini menariknya tidak mengambil latar di kota besar Israel seperti Tel Aviv atau Haifa. Alih-alih, Sand Storm mengangkat kehidupan orang-orang Bedouin di kawasan padang pasir Negev, penganut Islam yang sehari-hari berbahasa Arab. 'Badai pasir' yang dimaksud judul filmnya bukan semata mengacu kepada lautan pasir di kawasan tersebut, melainkan pada konflik rumah tangga antara Layla (diperankan oleh Lamis Ammar), putri sulung yang hendak dijodohkan walau ia sudah punya pacar pilihan sendiri; Suliman (Hitham Omari), sang ayah yang mempraktikkan poligami dan baru saja menikahi istri kedua; serta Jalila (Ruba Blal), ibu Layla dan istri pertama Suliman. 

Saya sudah beberapa kali menonton film progresif dari negara/komunitas Muslim yang menampilkan perempuan sebagai tokoh utamanya, antara lain The Day I Became A Woman (Iran 2000), Offside (Iran 2006), dan Wadjda (Arab Saudi 2012). Semua judul tersebut bagus dan banyak membahas konstruksi sosial & gender secara elegan. Sand Storm juga demikian, dengan gaya penuturan cerita yang naturalis apa adanya; tidak mengkritik secara membabi buta, tapi juga tidak menutup mata terhadap isu-isu problematis yang muncul dari realita sosial pada latarnya. 


Para tokoh perempuannya jelas memegang peranan paling penting dalam film ini. Lammis Ammar dan Ruba Blal sama-sama menampilkan akting solid sebagai ibu dan anak yang bisa dibilang terus cekcok sepanjang film. Ini bukan film yang terang-terangan memberitahu penonton tentang isi pikiran dan perasaan para karakternya (dialognya bukan model "Bu kenapa nggak pernah ngertiin aku, aku itu gini gini gini...."), jadi para pemainnya harus bisa menyampaikan penokohan dengan cara yang wajar tapi efektif. Menurut saya, mereka berhasil mencapai itu melalui gerak-gerik, ekspresi, dan intonasi dialog yang kuat. 

Walau salah satu konflik utamanya adalah hubungan asmara yang tidak direstui, filmnya jauh lebih fokus ke soal hubungan orangtua-anak daripada percintaan. Ini tentang anak gadis yang ngotot mendapatkan apa yang ia inginkan, dan ibu yang lebih berpengalaman tetapi sudah letih mental dan emosional. Menariknya, sosok si ayah yang berpoligami tidak serta merta dijadikan sebagai antagonis. Ada kontradiksi yang menarik pada dirinya: ia mengajari anak perempuannya menyetir mobil dan menyekolahkannya sampai kuliah, tapi di sisi lain ia juga berpoligami dan menjodohkan si anak dengan anak laki-laki dari orang berpengaruh di komunitas mereka. Ada kesan bahwa itu juga bukan kehendak hati nuraninya, tetapi ia tidak punya cukup keberanian atau keyakinan untuk menentang konstruksi sosial yang jelas-jelas membebani keluarganya secara emosional maupun finansial. 


Sebagai film feature debut dari Elite Zexer (sebelumnya ia menyutradarai film pendek dan dokumenter), kualitas Sand Storm sudah diakui melalui penghargaan internasional seperti Festival Sundance dan Ophir Award Entah apa yang ada di pikiran orangtua si sutrada ini saat memberi nama 'Elite', tapi pada kenyataannya prestasinya memang... ehm, elite. Dengan ditopang sinematografi padang pasir yang terlihat indah sekaligus 'hampa' serta tata busana ciamik, ia dan krunya mampu menyajikan potret konflik keluarga yang sederhana tapi efektif. Ada seni tersendiri pada koreografi dan aliran dialog pada sejumlah adegan, seperti momen saat Layla berusaha 'mendiamkan' pacarnya dari sang ibu di tengah jemuran baju (yang kemudian dijadikan imej poster film ini).

Dari segi budaya, ada perspektif dan wawasan baru yang saya dapat tentang masyarakat Bedouin Negev, yang rupanya merupakan salah satu kelompok minoritas marginal di negara Israel. Filmnya tidak mengangkat aspek geopolitik atau tensi etnis dengan pemerintah/kelompok masyarakat lainnya, namun terdapat potret budaya yang tajam terhadap konstruksi dan adat lokal Bedouin yang amat berorientasi patriarki. Ada detail menarik saat Jalila sebagai istri pertama memakai kumis palsu dan semacam cosplay ala lelaki, dalam bagian dari ritual seremoni pernikahan suaminya sendiri dengan istri baru... suatu momen yang terasa absurd dan ironis.    


Begitulah, konflik awal filmnya bertema "pacarku nggak direstui orangtua", tapi dengan eksekusi dan ending yang menekankan bahwa 'Hidup Tak Seindah Ending FTV/Hollywood/Drakor'. Terlepas dari itu, ada keindahan tersendiri dari pemahaman yang akhirnya tercapai dari anak perempuan yang awalnya naif dengan ibu yang sudah getir oleh asam garam kehidupan, dan bahwa selalu ada harapan untuk menemukan kepuasan tersendiri dalam belenggu konstruksi sosial. Yang jelas, saya jadi ingat untuk bersyukur bahwa saya cukup punya kebebasan menikahi siapa pun yang memang saling suka (atau sekalian tidak usah menikah kalau memang tidak mau :v). 

Sunday, February 7, 2021

Tantangan Film 2021 #1: The Vast of Night

(...mari abaikan kalau saya terakhir menulis di blog ini 6 tahun yang lalu, dan langsung ke intinya)

Dalam hal nonton film, masa pandemi membawa berkah dan musibah buat saya. Musibah karena tidak bisa nonton di bioskop, walau sudah buka sekalipun karena ogah membahayakan diri sendiri dan orang lain. Berkah karena jadi punya teman baru untuk diskusi film online, Bung Dion, salah satu sumber motivasi saya untuk tetap update dengan dunia perfilman dan menonton film-film di luar ranah mainstream.

Untuk 2021, kami membuat daftar tantangan nonton 25 film bertema khusus. Buat saya pribadi, ini untuk menambah motivasi nonton dan bikin tulisan lagi tentang film (supaya blog ini nggak terus-terusan terlantar… eh, memangnya masih ada yang nulis blog di zaman sekatang ya? Bodo amat lah). Tulisan pertama saya untuk tantangan ini adalah The Vast of Night, film debut sutradara Andrew Patterson, dengan kategori tema ‘film dengan alur cerita kurang dari 24 jam’ (atau dengan kata lain, keseluruhan cerita dalam filmnya berjalan dalam waktu kurang dari sehari).


The Vast of Night (2019)

Sutradara: Andrew Patterson
Durasi: 89 menit
Pemain: Sierra McCormick, Jake Horowitz
Staf Kunci: James Montague, Craig W. Sanger (penulis naskah); M.I. Littin Menz (sinematografi); Erick Alexander, Jared Bulmer (musik); Junius Tully (editing)
Distributor: Amazon Studio (bisa ditonton di website Amazon Prime)

Film berlatar waktu singkat bisa berupa berbagai genre: romansa (trilogi Before Sunrise, Sunset, dan Midnight), thriller (Buried), drama psikologis (Locke), dan lain-lain. Namun, biasanya ada satu benang merah penghubung: penekanan pada interaksi karakter dengan karakter lainnya atau situasi di sekeliling mereka. The Vast of Night pun terasa seperti itu. Mayoritas adegan bertumpu pada interaksi dua tokoh muda-mudi: Everett (diperankan oleh Jake Horowitz), pemuda penyiar radio, dan Fay (Sierra McCormick), gadis operator switchboard telepon.

Latarnya mengambil tempat di Cayuga, sebuah kota fiktif di New Mexico, Amerika Serikat, pada 1950an. Pada suatu malam ketika banyak penduduk kota yang berkumpul di balai olahraga untuk nonton pertandingan basket, Fay mendengar bunyi sinyal aneh saat sedang bekerja. Bersama Everett, mereka pun menyiarkan pengumuman radio untuk mencari orang yang mungkin tahu tentang asal-muasal bunyi tersebut. Tak disangka, penyelidikan tersebut kemudian membawa mereka menuju sebuah kenyataan mengejutkan….


Sesuai tema tantangan saya (dan judul filmnya), cerita filmnya mulai dan kelar hanya dalam semalam. Temanya misteri/sains fiksi, dan Patterson sang sutradara memang sengaja merancang filmnya sehingga terkesan bak sebuah episode dari The Twilight Zone (serial antologi cerita misteri/sains fiksi AS yang pertama tenar pada 1950an)—lengkap dengan adegan pembuka yang terang-terangan memparodikan monolog pembukaan dari serial tersebut. Selain Twilight Zone, nuansa film ini juga mengingatkan saya kepada The X-Files, serial yang mungkin lebih akrab bagi penonton Indonesia (khususnya anak 1990an yang doyan begadang untuk nonton film/seri Barat di TV). Intinya, ada dua kata kunci yang mencirikan semua karya itu: ‘fenomena aneh’ dan ‘teori konspirasi’.

Sepanjang film, kita melihat dari sudut pandang Fey dan Everett, sehingga perlahan-lahan kita jadi makin mengenal mereka. Ada kontras yang menarik antara kepribadian Everett yang pragmatis dan serbatahu dengan Fey yang lugu nan idealis, walau mereka sama-sama memiliki minat pada dunia radio dan penyiaran. Sifat jelek mereka pun kian kentara seiring berkembangnya cerita: Everett songong menjurus arogan, sedang Fey cerewet dan panikan. Akan ada momen saat penonton merasa sebal dengan mereka, tapi hal ini justru memperkuat kesan autentik; seakan mereka bukan sekedar tokoh dalam film, melainkan manusia betulan yang bereaksi terhadap situasi aneh secara realistis.

Nuansa periode 1950an digambarkan dengan baik melalui aspek sinematografi, desain set, maupun tata busana. Salah satu momen paling berkesan (dan flexing secara teknis) di film ini adalah adegan tracking shot panjang yang menunjukkan berbagai lokasi, dengan pergerakan kamera super dinamis dari elevasi bawah. Patterson memang doyan melakukan pengambilan gambar/adegan panjang tanpa putus—termasuk sengaja tidak memotong dialog/momen yang sebenarnya tidak relevan dengan plot, dalam rangka membangun suasana dan karakter. Contohnya lagi adalah adegan 9 menit yang menunjukkan rutinitas Fey dalam mengoperasikan panel switchboard (di masa itu penelepon akan dihubungkan lebih dulu dengan operator pusat telekomunikasi/switchboard sebelum dialihkan ke sambungan orang yang ingin dihubungi).


Jadi, walau filmnya tergolong pendek, bukan berarti ‘langsung cepat ke intinya’. Dimulai dari penggambaran suasana persiapan pertandingan basket serta dialog ngalor-ngidul Fey dan Everett saat mereka jalan bareng menuju tempat kerja masing-masing, alur narasi memang berjalan apa adanya dan membiarkan konflik berkembang pelan-pelan. Kurang cocok buat yang nggak doyan menyimak dialog, atau yang maunya banyak adegan aksi duar-duar.

Apakah filmnya tergolong berhasil dengan teknik demikian? Buat saya, ya dan tidak. Saya menikmati atmosfer dan mayoritas dialognya, tapi tidak semua interaksinya menarik untuk disimak. Akhir filmnya (penyelesaian konflik/klimaks dan tema besar) juga terasa kurang ‘nendang’, walau tergolong berani dari segi konsep. Bisa dibilang, daripada misteri utamanya, saya lebih tertarik pada aspek sampingan/serba-serbi di film ini—seperti obrolan Fey dan Everett tentang masa depan, dunia penyiaran, dan pencarian konten untuk radio.


Secara keseluruhan, The Vast of Night cukup impresif untuk ukuran karya sutradara debutan dengan budget relatif rendah. Yang jelas, ada kekhasan dan nuansa nostalgia dari film ini, dengan tema yang akan menarik bagi penggemar serial sejenis The Twilight Zone/The X-Files. Akan saya simak lagi kiprah Patterson selanjutnya, mudah-mudahan dengan idealisme dan jiwa independen yang tetap bertahan walau proyek/budget berikutnya bisa jadi akan lebih besar!

Friday, January 16, 2015

Adventure in Interpreting


 
Kurang-lebih setahun yang lalu, saya diinformasikan seorang kenalan bahwa sebuah perusahaan bahan konstruksi bangunan dari Prancis tengah mencari penerjemah lisan alias interpreter untuk proyek konstruksi di Cikande, Serang. Proyek itu akan berlangsung selama setahun dan si interpreter akan bertugas menjembatani komunikasi antara tim dari luar negeri (terdiri dari insinyur Inggris, Prancis, Jerman, Cina, Irlandia Utara, dll.) dengan tim lokal lewat bahasa Inggris. Jujur, ini tergolong tantangan yang tinggi, mengingat pengalaman interpreting saya dalam kapasitas profesional saat itu masih nol. Latar belakang saya adalah penerjemahan tulisan/dokumen, dan walaupun saya dipaksa rajin cas-cis-cus dalam bahasa Inggris di masa-masa kuliah dulu, sejujurnya beberapa tahun setelah kuliah kemampuan bicara/mendengar Inggris saya sudah mulai karatan.

Tapi, akhirnya tantangan itu saya songsong dengan dada (begeng) membusung. Setelah saya pikir-pikir, bukannya saya juga belajar penerjemahan tulisan secara otodidak dan praktik langsung? Saya selalu percaya pengalaman adalah guru terbaik dan kalau alasan menolak tantangan itu karena "belum ada pengalaman".... yah, terus kapan akan ada pengalamannya? Idealnya, memang kita belajar berenang mulai dari kolam renang anak-anak dulu, tapi seringkali hidup nggak sebaik itu dan memberikan kesempatan pertama dalam bentuk laut penuh piranha. Terserah pada kita apa mau mengambil kesempatan itu atau nggak.


(saya dan Babe Steve, project leader dari Nottingham, Inggris)

Untungnya, walaupun berkarat, kemampuan bicara-mendengar saya masih cukup baik untuk bisa lolos dari tes wawancara. Resmilah saya bekerja di site konstruksi tersebut. Ada banyak sekali hal baru yang saya dapat di sana, yang pertama dan paling penting:

Interpreting itu susah.

"Semua orang juga tahu!" Iya, tapi perlu ditekankan lagi bahwa latar belakang pendidikan di bahasa Inggris ternyata nggak serta-merta menjadikan kita interpreting yang baik. Latar pelakang penerjemahan (tulisan) juga bukan modal otomatis. Selain kemampuan teknis berbahasa, interpreting (*terutama jenis yang saya alami, yaitu interpreting spontan di tempat dan seringkali sulit diprediksi sebelumnya) sangat membutuhkan kecepatan berpikir, daya konsentrasi yang tinggi, dan kemampuan tahan banting serta belajar dari kesalahan... karena bertugas sebagai interpreter pasti akan sering melakukan kesalahan. Salah dan salah dan salah lagi.

Kehilangan konsentrasi dan gagal menangkap maksud dari pembicara asli. Kesulitan mencari padanan kata yang tepat. Gagal menyampaikan seluruh isi pesan pembicara asli, atau yang lebih gawat lagi, menyampaikan isi pesan yang salah. Hal yang membuat proses interpreting menjadi lebih kompleks adalah fakta banyaknya elemen yang berada di luar kendali/kemampuan kita sebagai interpreter. Bagaimana seandainya pembicara asli bicara dengan aksen yang kurang jelas? Bagaimana seandainya pembicara asli bicara dengan sangat bertele-tele? Bagaimana seandainya pembicara asli menggunakan istilah atau jargon yang tidak kita pahami?

Tapi, percaya atau nggak, solusi alami untuk semua hal itu akan muncul dengan sendirinya lewat proses yang diulang-ulang. Sejujurnya, nggak ada panduan teori yang dapat membantu kita menjadi interpreter yang handal, biarpun hal-hal berikut akan sangat membantu:

1) Persiapan. Seandainya ini interpreting untuk presentasi, pelajari materi dan apa yang akan dibahas dari jauh-jauh hari sebelumnya. Seandainya ini interpreting untuk rapat, pahami konteks dan tujuan dari rapat itu sendiri. Inisiatif sangat penting dalam hal ini, karena seringkali orang-orang yang berkepentingan terlalu sibuk/kelupaan untuk mempersiapkan kita selain garis besarnya.

2) Konsentrasi. Bengong atau melamun selama bertugas itu haram jadah; selalu usahakan nggak ada satu kata atau kalimatpun yang luput dari pendengaran. Ini tantangan tersendiri buat orang-orang seperti saya, yang kadang pikirannya sering mendadak mengembara sampai sejauh planet Pluto.

3) Saat di luar tugas, pastikan "mesin" nggak berkarat. Ini zaman Internet dan globalisasi (*serasa nulis paragraf awal makalah), nggak ada alasan kenapa kita nggak bisa mengumpulkan bahan dan sumber untuk belajar/latihan otodidak. Ajak teman latihan. Perkaya kosa kata. Tonton video/film asing. Pertimbangkan untuk ikut speaking club yang sering aktif di akhir pekan atau selepas jam kantor, atau investasi untuk speaking course.

4) Sering-sering korek kuping dan minum ginkgo biloba.

Setelah perjalanan ini semakin terasa menyedihkan, sayang engkau tak duduk di sampingku kawan yang panjang dan berliku, saya sendiri pun di tengah proyek berhasil mencapai titik di mana saya mendapatkan 'ritme' atau groove yang membuat pekerjaan menjadi jauh lebih nyaman. Dengan kata lain, saya telah terbiasa. Bukan berarti saya otomatis jadi jenius yang kemudian nggak pernah salah lagi, tapi sungguh melegakan saat melihat apa yang awalnya terasa begitu berat kemudian menjadi jauh lebih bisa dihadapi.

Pada dasarnya, saya menekuni bidang ini karena penerjemahan (dalam bentuk apapun) sebenarnya ibarat gerbang ke dunia atau sumber pengetahuan baru. Proyek di Serang yang saya ceritakan ini misalnya, mengajarkan saya berbagai kultur bekerja dan keseharian orang dari berbagai negara, dunia engineering dan berbagai elemen yang terlibat di dalamnya, aspek-aspek produksi/konsumsi/distribusi, aspek keamanan pekerja, dan masih banyak lagi. Menjadi jembatan antara kultur dan bahasa yang berbeda mengharuskan saya untuk turut memahami pengetahuan yang ditransfer antara keduanya, dan membuat saya sadar betapa dunia ini begitu luas dan mengandung tak terhitung banyaknya hal yang bisa dipelajari.

Sunday, January 11, 2015

Indie Book Review: Stories from The Past (Silvarani)


Stories from The Past (Kumpulan Novella)
Penulis: Nadia Silvarani
Penerbit: Nadia Silvarani
Genre: Drama sejarah
Halaman: 200
Cover Design: Muhammad Amin
Tahun: 2013


Kira-kira di akhir 2013, buku yang  ditulis seorang teman kuliah  ini  sempat menemani saya di perjalanan bolak-balik  Jakarta-Serang dalam rangka mencari nafkah. Lumayanlah daripada terus-terusan memelototi biduan-biduan berbusana minim yang sering nongol di TV bis antarkota, hehehe. Buku ini menarik, bukan hanya karena faktor koncoisme mentang-mentang saya kenal penulisnya, melainkan karena tema dan gaya penulisannya yang tergolong segar. 

Dalam buku ini ada tiga novella/novellette (<--kakaknya cerpen, adiknya novel), Lonceng Eksekusi, Sebeloem Monas Dibangun, dan Tjinta Seperempat Abad. Seandainya Anda bertanya-tanya kenapa judul-judul ceritanya ditulis dengan gaya tempo doeloe, buku ini memang pada dasarnya memiliki nuansa sejarah yang kental, khususnya sejarah kota Jakarta. Fiksi sejarah? Yap! Di era di mana anak muda Jakarta mungkin bisa hafal nama lengkap personil band luar negeri kesayangannya tapi planga-plongo kalau ditanya soal sejarah kota tempatnya tinggal, cukup menyenangkan bahwa ada penulis yang mengintegrasikan faktor edukasi dalam kemasan fiksi populer. 

Sesuai dengan judul bukunya sendiri, novella-novella tersebut mengangkat kisah-kisah dari masa lalu. Bukan hanya masa lalu dari karakter-karakternya, melainkan juga masa lalu dari latar kota Jakarta jauh sebelum ia menjadi ibu kota metropolitan yang banyak didambakan sekaligus dibenci. Pola masing-masing cerita biasanya diawali dengan adanya tokoh-tokoh di era modern yang kemudian menjembatani pembaca kepada sebuah kisah di masa lalu; Reno, seorang pelukis dan jurnalis lepas yang mengunjungi pameran seorang pelukis Prancis di era kolonial (Lonceng Eksekusi) dan mencari tahu latar belakang calon suami sahabatnya (Tjinta Seperempat Abad), serta Bintang dan Veli, sepasang mahasiswa yang akrab dengan seorang engkong penghuni panti wreda (Sebeloem Monas Dibangoen). Dari situlah, muncul benang merah yang mengaitkan peristiwa di masa lalu dengan apa yang dialami tokoh-tokoh utama di masa kini. 
 
Range ketiga novella tersebut cukup membuat saya kagum.  Ketiganya memiliki gaya dan atmosfer yang beragam; Lonceng Eksekusi merupakan cerita yang paling singkat dan bernuansa getir, Sebeloem Monas Dibangun adalah komedi roman yang bernuansa jenaka, sementara Tjinta Seperempat Abad tergolong drama keluarga sekaligus kisah paling panjang dan dramatis dalam buku ini. Namun, semuanya memiliki narasi yang kuat dan jarang sekali menjadi membosankan saat dibaca. Gaya penulisan Silvarani cenderung lugas dan tidak bertele-tele, jarang memakai bahasa yang berbunga-bunga namun bukan berarti tanpa substansi.  Di Lonceng Eksekusi misalnya, terlihat kekuatan dari segi  penggambaran latar dan deskripsi atmosfer dalam cerita yang menurut saya memiliki konsep ide (*pengalaman seorang pelukis yang melukis narapidana hukuman mati di era kolonialisme) paling menarik di buku ini. 

Sejauh mata memandang, penduduk Batavia memadati alun-alun. Mulai dari penjaja makanan, kuli, pemusik jalanan sampai bangsawan Eropa dan orang pemerintahan selalu berebutan menonton hukuman mati. Jika eksekusi berhasil, mereka bersorak. Jika eksekusi gagal, mereka bersorak pula. Tak jelas bagaimana bentuk perasaan mereka saat itu (Lonceng Eksekusi, hal. 15)
 
Saya juga menyukai dialog dan interaksi karakter secara umum di buku ini. Dialog yang ditulis Silvarani menggambarkan karakter yang benar-benar hidup, alami, dan seringkali terasa lucu tanpa memaksakan diri untuk terang-terangan melawak. Bumbu humor paling kental terasa di cerita pertengahan, Sebeloem Monas Dibangoen, yang menampilkan tokoh seorang engkong dengan tingkah laku agak sableng.

"Ngomong-ngomong, kemaren lu denger pidato presiden di RI?" 
"Kagak dengerin bang. Aye semalem nginep di Rumah sakit umum. Kagak bawa radio. Berat bang."
"Siapa nyang nyuruh lu nenteng-nenteng radio ke Rumah sakit Umum? Gue cuman nanya, elu dengerin pidato presiden kagak di radio? Tapi ngomong-ngomong, ngapain lu ke rumah sakit Umum?"  (Sebeloem Monas Dibangun, hal. 39-40)

Kumpulan novella ini ditutup dengan Tjinta Seperempat Abad, yang agak 'kalah' dari kedua cerita lainnya di mata saya karena ada beberapa titik perkembangan cerita yang saya rasa terlalu bombastis. Walau begitu, cerita ini tetap tergolong bagus karena kekuatan temanya yang menyorot aspek keluarga, khususnya dalam perbandingan antara keluarga kandung yang telah lama meninggalkan seorang tokoh di situ dengan keluarga angkat yang membesarkannya. Digambarkan juga aspek dunia kedokteran di era kolonialisme dan sentuhan atmosfer era tersebut yang cukup efektif. 

Walaupun buku ini diproduksi secara independen, namun kualitas produksinya tergolong bagus. Sampul depan dan belakang menampilkan ilustrasi asli yang menawan dari M Amin, dan sangat menggambarkan tema serta atmosfer dari Stories from The Past. Kadang ada salah ketik dan inkonsistensi kapitalisasi huruf (*lihat penulisan rumah sakit umum di salah satu kutipan di atas, misalnya), tapi masih dalam batas kewajaran dan tidak terlalu mengganggu kenyamanan saya membaca. 

Pada akhirnya, saya pun mendapat kesan yang kuat setelah menyelesaikan semua cerita di buku ini. Aspek sejarahnya memang bisa digali lebih dalam lagi dan penulis pun menyampaikan maaf seandainya ada kesalahan faktual, tapi niat untuk menyertakan elemen tersebut saja sudah patut diacungi jempol. Dalam kata pengantarnya, penulis sempat menyinggung "menerbitkan novel sejarah untuk karya perdana ini adalah sebuah langkah yang agak cari mati....", tapi secara pribadi saya yakin masih banyak yang ingin mendapat angin segar seperti ini di belantara genre metro pop yang terkesan stagnan.
 
Don't ever be afraid to write things you're passionate about. 
 
(*penulis bisa dihubungi untuk kepentingan pemesanan buku lewat akun Twitter @silvarani atau @silvaranibooks).