Monday, December 26, 2022
Catatan Film Indonesia: Nana, Ngeri-Ngeri Sedap, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas
Sunday, April 11, 2021
Tantangan Film 2021 #5: Set It Up
Pada dasarnya, saya cenderung omnivora soal film.
Sutradara: Claire Scanlon
Durasi: 105 menit
Pemeran: Zoey Deutch, Glen Powell, Lucy Liu, Taye Diggs
Staf Kunci: Katie Silberman (penulis naskah); Matthew Clark (sinematografi); Laura Karpman (musik); Wendy Greene Bricmont (editing)
Saturday, March 27, 2021
Tantangan Film 2021 #4: Wolfwalkers
Ada film yang menampilkan peristiwa sejarah dengan seakurat mungkin sesuai data fakta. Ada yang menampilkan peristiwa sejarah, tapi dengan bumbu narasi fiktif yang didramatisir. Ada yang… mengambil konflik bersejarah, mengubah drastis hasilnya, dan menambahkan elemen seperti manusia serigala di hutan.
Sutradara: Tomm Moore, Ross Stewart
Durasi: 103 menit
Pengisi Suara: Honor Kneafsey, Eva Whittaker, Sean Bean, Simon McBurney, Maria Doyle Kennedy
Staf Kunci: Will Collins (penulis naskah); Tomm Moore, Ross Stewart (pengarang cerita); Bruno Colais, Kila (musik); Richie Cody, Darren Holmes, Darragh Byrne (editing)
Distributor: Wildcard/Apple Inc. (bisa ditonton di layanan streaming Apple+)
Seperti banyak film animasi masa kini, Wolfwalkers memilih anak perempuan sebagai protagonisnya: Robyn, anak gadis dari pemburu yang ditugaskan Lord Protector untuk ‘membersihkan’ hutan Irlandia dari kawanan serigala terakhir. Robyn yang bersemangat ingin membantu ayahnya, kemudian bertemu dengan gadis serigala, Mebh, yang kemudian mengubah jalur kehidupan mereka berdua untuk seterusnya…
Satu hal yang jelas harus disebut pertama: bangun latar
(Irlandia abad ke-17), desain karakter, dan teknik animasi dari film ini masuk level dewa. Mayoritas film ini digambar tangan dengan sentuhan efek 3 dimensi di sejumlah momen krusial, pilihan warna yang cemerlang, serta penampakan objek yang begitu elastis dan kaya tekstur. Ada banyak ragam nuansa visual pada film ini yang ditampilkan sama baiknya, baik itu pemukiman ramai penduduk dengan warna cerah, maupun hutan pada malam hari dengan nuansa mistis, misterius, dan dipenuhi semburat warna gelap. Lalu, ada bagian animasi yang bisa dibilang paling mencolok dari film ini: wolf vision atau visualisasi dari sudut pandang serigala.
Dengan kata lain, penonton bisa menyimak serius unsur-unsur sosiopolitik di filmnya, dan bisa juga menikmati dengan hanya fokus ke inti cerita dan karakternya. Bagi peminat sejarah, akan menarik melihat bagaimana Wolfwalkers menggambarkan Oliver Cromwell dan merevisi hasil akhir dari upayanya menaklukkan tanah Irlandia. Ini jelas revisi 'indah' yang hanya bisa terjadi di dunia dongeng, tapi mau tak mau saya jadi turut berangan-angan... alangkah lebih baiknya dunia kalau generasi mudanya seperti Robyn dan Mebh!
Bagi dunia film animasi, 2020 adalah tahun yang bagus. Ada tiga film luar biasa dari beragam kultur yang dirilis pada tahun itu: A Whisker Away, Soul, dan Wolfwalkers. Soul jelas yang paling 'punya nama' dengan pesan yang amat relevan di masa sekarang, A Whisker Away punya pesona khas animasi Jepang dan karakter-karakter yang patut disayangi, sedangkan Wolfwalkers paling impresif dari segi visual dan rasanya akan terus memberikan hal baru saat ditonton ulang. Semoga ke depannya, akan terus banyak film animasi dengan kreativitas, kualitas, dan pesona seperti judul-judul ini...
Sunday, March 14, 2021
Tantangan Film 2021 #3: Inhuman Kiss
Dari Israel, saya berlanjut ke Negeri Gajah Putih untuk memenuhi tantangan nonton berikutnya: 'film dari Thailand'. Tema ini disumbang oleh sobat nonton saya, Dion, penggemar film Thailand merangkap fanboy aktris Pimchanak 'Baifern' Luevisadpaibul. Dibanding dia, jam terbang saya nonton film Thailand jauh lebih sedikit; saya hanya pernah nonton Shutter dan Bad Genius, tapi saya suka dua-duanya (terutama Bad Genius yang merupakan salah satu film favorit saya dalam beberapa tahun terakhir). Jadi, saya lumayan bersemangat untuk mengeksplorasi lagi khasanah perfilman negara ini.
Setelah mengobok-obok katalog film Thailand di Netflix (yang koleksi film Asia Tenggaranya cukup oke), pilihan akhirnya jatuh kepada film horor Inhuman Kiss.
Sutradara: Sitisiri Mongkolsiri
Durasi: 122 menit
Pemain: Phantira Pipityakorn, Oabnithi Wiwattanawarang, Sapol Assawamunkong, Surasak Wongthai
Staf Kunci: Chukiat Sakveerakulr (penulis naskah); Pithai Smithsuth (sinematografi); Pithai Smithsuth (musik); Manussa Vorasingha, Abhisit Wongwaitrakarn (editing)
Distributor: M Pictures/Netflix (bisa ditonton di website Netflix)
Krasue dalam film ini dikisahkan tengah meneror sebuah desa pada periode 1940-an di Thailand, dengan memangsa hewan ternak para penduduk di malam hari. Di desa ini, tinggal gadis remaja bernama Sai (Phantira Pipityakorn), yang tumbuh bersama teman-teman masa kecilnya, Jerd (Sapol Assawamunkong), Noi (Oabnithi Wiwattanawarang), dan Ting (Darina Boonchu). Pada suatu hari, Noi yang sudah lama meninggalkan desa, pulang kampung bersama pasukan pemburu krasue yang dipimpin seorang pria tua obsesif, Tad (Surasak Wongthai). Cerita berkembang menjadi roman cinta segitiga antara Sai, Noi, dan Jerd, sementara perburuan krasue terus berlanjut dan rahasia kelam pun satu-persatu terkuak...
Tema tentang simpati terhadap sosok 'monster' dan kisah asmara antara manusia dengan 'monster' sebenarnya bukan hal baru dari sejak zamannya Frankenstein hingga Twilight. Namun, yang jadi tantangan tersendiri di sini adalah bagaimana 'memanusiawikan' krasue, sosok yang citranya mengerikan nan menjijikkan (masih jauh lebih gampang menampilkan vampir kece, misalnya, dibanding kepala cewek yang melayang-layang dengan organ masih gelantungan). Di sinilah tata artistik dan efek visual sangat berperan, dan sukses menampilkan sosok krasue yang semakin lama semakin terlihat memukau dalam ketragisannya. Estetika visual filmnya memang menonjol, dari pemilihan warna yang indah dan halus, hingga adegan klimaks luar biasa dengan efek laga yang tidak kalah dahsyat dibandingkan film superhero Barat.
Friday, February 26, 2021
Gangguan Mental: Musuh Tak Kasat Mata di Dunia Kerja
Bekerja sampai larut malam dan di akhir pekan.
Masih membalas dan mengecek pesan soal pekerjaan, walau sudah bersama keluarga di rumah.
Merasa letih dan menunjukkan tanda-tanda depresi, tapi tidak bisa ambil cuti atau istirahat karena tekanan tanggung jawab yang dibebankan kantor.
Saat ini, fenomena-fenomena tersebut sudah bukan hal aneh lagi di kehidupan sehari-hari masyarakat perkotaan. Pasca tahun 2000, teknologi internet, pesan instan, dan komunikasi jarak jauh yang kian mudah memang membuat kehidupan terkesan lebih praktis. Namun, terdapat dampak berbahaya di baliknya, khususnya bagi pelaku dunia kerja. Siklus produksi menjadi lebih cepat, dan batas antara ranah pribadi dan ranah profesional pun kian mengabur. Pekerjaan senantiasa membuntuti karyawan bahkan setelah ia pulang ke rumah dari kantor, karena kini atasan, rekan kerja, maupun klien bisa menghubunginya di mana pun dan kapan pun mereka merasa perlu.
Dengan ditambah tekanan untuk menghidupi keluarga, memenuhi tenggat waktu, atau menjaga hubungan baik dengan kolega, tidak heran makin banyak karyawan yang mengalami gangguan mental. Menurut perwakilan Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (Perdoki), Nuri Purwito Adi, pada 2017, sebesar 60,6% pekerja industri kecil menengah di Indonesia mengalami depresi, sedangkan 57,6% mengidap insomnia. Depresi sendiri dapat berbuntut ke masalah kesehatan fisik, atau ketidakharmonisan hingga bahkan kekerasan dalam rumah tangga. Hal ini jelas meresahkan, ditambah lagi kesadaran masyarakat Indonesia khususnya di dunia kerja yang masih tergolong rendah terhadap isu kesehatan mental.
Manajemen dan Rekan Kerja Sebagai Pelindung Kesehatan Mental
Tentunya, setiap manusia punya tanggung jawab untuk menjaga kesehatannya sendiri, termasuk kesehatan mental. Namun, patut diingat bahwa banyak faktor yang membuat karyawan memilih untuk menahan atau menyembunyikan gangguan mentalnya. Faktor itu bisa berupa tekanan finansial, tuntutan berlebihan dari atasan atau kantor, rasa takut akan stigma negatif terhadap orang-orang yang mengalami gangguan mental, maupun kurangnya alternatif tempat kerja lain yang lebih akomodatif bagi kesehatan mental si karyawan.
Dalam budaya kantor di Indonesia pun, masih sedikit karyawan yang menyadari bahwa mereka bisa memperoleh surat izin tidak bekerja dari psikiater, seperti halnya saat mereka mengalami gangguan kesehatan fisik. Di sisi lain, pemberi kerja pun tidak bisa sewenang-wenang memanfaatkan karyawan di atas batas kewajaran, atau acuh membiarkan karyawan bekerja dengan cara yang berisiko menyebabkan gangguan mental. Hal ini bisa berupa pemaksaan lembur di luar jam kerja normal, atau dalam bentuk yang lebih halus, penciptaan budaya kerja yang membuat karyawan selalu mendahulukan pekerjaan dibanding kesehatan mentalnya sendiri.
Dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan Republik Indonesia pasal 35 ayat 3, pemberi kerja diwajibkan untuk memberikan perlindungan yang mencakup kesejahteraan, keselamatan dan kesehatan baik mental maupun fisik tenaga kerja. Dengan kata lain, pemberi tenaga kerja wajib memastikan bahwa ia sudah menyediakan lingkungan kerja yang sehat bagi karyawan, termasuk dari aspek mental. Hal ini terwujud dari terciptanya budaya kerja yang sehat dan tidak membebani kondisi mental karyawan hingga melampaui batas.
Budaya kerja yang sehat tidak akan terwujud bila pemberi kerja mengedepankan profit semata, dan menerapkan jam kerja yang amat mengganggu keseimbangan antara kehidupan pribadi karyawan maupun di kantor. Pada kenyataannya, mayoritas waktu tenaga kerja usia produktif sudah akan terpakai untuk bekerja dari Senin sampai Jumat, sehingga seharusnya waktu di luar jam kerja normal itu bisa mereka nikmati tanpa gangguan pekerjaan. Empati harus ditanamkan dalam diri setiap karyawan untuk berusaha tidak mengganggu rekannya pada jam istirahat mereka, kecuali dalam situasi yang benar-benar darurat.
Dalam hubungan dengan pihak ketiga berupa klien, manajemen suatu usaha perlu tegas menginformasikan rentang jam kerja mereka sendiri sehingga tidak ada pemaksaan dari salah satu pihak untuk mengikuti jam kerja yang lainnya. Hal ini seringkali terlupakan, karena prioritas yang lebih mengedepankan hubungan baik dengan pihak ketiga alih-alih kondisi karyawan sendiri. Padahal, apabila karyawan bekerja dalam kondisi mental yang tidak prima, pemberi kerja sendiri yang akan rugi karena hasil kerja karyawan tersebut tidak akan optimal atau karyawan tersebut ujungnya beralih ke pekerjaan lain karena tidak merasa betah.
Penyusunan kebijakan manajemen, khususnya departemen Sumber Daya Manusia (SDM), harus mampu mengidentifikasi aspek kebutuhan psikis karyawan yang tidak bisa juga dipukul rata. Setiap manusia punya karakteristik dan kebutuhan yang berbeda-beda, sehingga manajemen tidak bisa berasumsi bahwa satu kebijakan saja sudah pasti membawa dampak positif bagi semua karyawan. Jangan memaksakan kegiatan outing atau jalan-jalan bersama untuk semua karyawan, misalnya, karena bisa saja ada orang yang hanya ingin istirahat atau enggan kalau waktu bersama keluarga yang sudah sedikit jadi makin berkurang.
Manajemen bisa mendengarkan curahan hati dan keluh kesah karyawan melalui sebuah forum internal terbuka. Namun, yang lebih penting adalah adanya rasa perhatian secara tulus yang tercermin dari tindakan sehari-hari. Divisi SDM bisa mengingatkan karyawan bahwa mereka punya jatah cuti yang belum terpakai, misalnya. Saat mengirim karyawan untuk tugas lapangan, kantor bisa mengambil langkah-langkah sebelumnya untuk memastikan kesehatan dan keamanan karyawan tersebut sebelum bertugas. Alih-alih saling menyalahkan, sesama rekan kerja patutnya membiasakan diri untuk memberi kritik konstruktif dan menyelesaikan masalah dengan tidak terbawa emosi.
Saturday, February 20, 2021
Tantangan Film 2021 #2: Sand Storm
Sekitar satu dekade lalu, saya mulai tertarik pada dunia film di luar ranah lokal atau Hollywood, alias film-film dari berbagai negara yang biasanya nggak ditayangkan di bioskop (bahasa kerennya: ‘world cinema’). Menarik rasanya melihat refleksi kehidupan orang-orang dengan kultur, bahasa, dan filosofi yang berbeda dengan yang biasanya saya lihat sehari-hari. Pada waktu itu pun, saya jadi punya aspirasi untuk menonton film-film dari sebanyak mungkin negara yang berbeda…. anggap saja ini cara realistis dan hemat untuk keliling dunia, hahaha.
Kini, nonton film-film seperti itu jadi lebih mudah berkat
berbagai pilihan streaming yang menawarkan judul dari beragam festival film
internasional, nggak perlu lagi mondar-mandir cari tempat download esek-esek.
Jadi saya pun kembali ‘keliling dunia’ dengan sekalian memenuhi salah satu tema
dari tantangan film tahun ini: film dari negara yang belum pernah saya tonton.
Untuk kategori ini, pilihan saya jatuh pada Sand Storm, film Israel pemenang
penghargaan di Sundance Festival tahun 2016.
Sutradara & Penulis Naskah: Elite Zexer
Durasi: 87 menit
Pemain: Lamis Ammar, Ruba Blal, Hitham Omari, Khadija Al Akel
Staf Kunci: Shai Peleg (sinematografi); Nir Adler (penata artistik); Ronit Porat (editing)
Distributor: Pyramide Distribution (bisa ditonton di website Netflix)
Film besutan sutradara berkebangsaan Israel, Elite Zexer, ini menariknya tidak mengambil latar di kota besar Israel seperti Tel Aviv atau Haifa. Alih-alih, Sand Storm mengangkat kehidupan orang-orang Bedouin di kawasan padang pasir Negev, penganut Islam yang sehari-hari berbahasa Arab. 'Badai pasir' yang dimaksud judul filmnya bukan semata mengacu kepada lautan pasir di kawasan tersebut, melainkan pada konflik rumah tangga antara Layla (diperankan oleh Lamis Ammar), putri sulung yang hendak dijodohkan walau ia sudah punya pacar pilihan sendiri; Suliman (Hitham Omari), sang ayah yang mempraktikkan poligami dan baru saja menikahi istri kedua; serta Jalila (Ruba Blal), ibu Layla dan istri pertama Suliman.
Sunday, February 7, 2021
Tantangan Film 2021 #1: The Vast of Night
Dalam hal nonton film, masa pandemi membawa berkah dan musibah buat saya. Musibah karena tidak bisa nonton di bioskop, walau sudah buka sekalipun karena ogah membahayakan diri sendiri dan orang lain. Berkah karena jadi punya teman baru untuk diskusi film online, Bung Dion, salah satu sumber motivasi saya untuk tetap update dengan dunia perfilman dan menonton film-film di luar ranah mainstream.
Untuk 2021, kami membuat daftar tantangan nonton 25 film bertema khusus. Buat saya pribadi, ini untuk menambah motivasi nonton dan bikin tulisan lagi tentang film (supaya blog ini nggak terus-terusan terlantar… eh, memangnya masih ada yang nulis blog di zaman sekatang ya? Bodo amat lah). Tulisan pertama saya untuk tantangan ini adalah The Vast of Night, film debut sutradara Andrew Patterson, dengan kategori tema ‘film dengan alur cerita kurang dari 24 jam’ (atau dengan kata lain, keseluruhan cerita dalam filmnya berjalan dalam waktu kurang dari sehari).
Sutradara: Andrew Patterson
Durasi: 89 menit
Pemain: Sierra McCormick, Jake Horowitz
Staf Kunci: James Montague, Craig W. Sanger (penulis naskah); M.I. Littin Menz (sinematografi); Erick Alexander, Jared Bulmer (musik); Junius Tully (editing)
Distributor: Amazon Studio (bisa ditonton di website Amazon Prime)
Film berlatar waktu singkat bisa berupa berbagai genre: romansa (trilogi Before Sunrise, Sunset, dan Midnight), thriller (Buried), drama psikologis (Locke), dan lain-lain. Namun, biasanya ada satu benang merah penghubung: penekanan pada interaksi karakter dengan karakter lainnya atau situasi di sekeliling mereka. The Vast of Night pun terasa seperti itu. Mayoritas adegan bertumpu pada interaksi dua tokoh muda-mudi: Everett (diperankan oleh Jake Horowitz), pemuda penyiar radio, dan Fay (Sierra McCormick), gadis operator switchboard telepon.
Latarnya mengambil tempat di Cayuga, sebuah kota fiktif di New Mexico, Amerika Serikat, pada 1950an. Pada suatu malam ketika banyak penduduk kota yang berkumpul di balai olahraga untuk nonton pertandingan basket, Fay mendengar bunyi sinyal aneh saat sedang bekerja. Bersama Everett, mereka pun menyiarkan pengumuman radio untuk mencari orang yang mungkin tahu tentang asal-muasal bunyi tersebut. Tak disangka, penyelidikan tersebut kemudian membawa mereka menuju sebuah kenyataan mengejutkan….
Sepanjang film, kita melihat dari sudut pandang Fey dan Everett, sehingga perlahan-lahan kita jadi makin mengenal mereka. Ada kontras yang menarik antara kepribadian Everett yang pragmatis dan serbatahu dengan Fey yang lugu nan idealis, walau mereka sama-sama memiliki minat pada dunia radio dan penyiaran. Sifat jelek mereka pun kian kentara seiring berkembangnya cerita: Everett songong menjurus arogan, sedang Fey cerewet dan panikan. Akan ada momen saat penonton merasa sebal dengan mereka, tapi hal ini justru memperkuat kesan autentik; seakan mereka bukan sekedar tokoh dalam film, melainkan manusia betulan yang bereaksi terhadap situasi aneh secara realistis.
Nuansa periode 1950an digambarkan dengan baik melalui aspek sinematografi, desain set, maupun tata busana. Salah satu momen paling berkesan (dan flexing secara teknis) di film ini adalah adegan tracking shot panjang yang menunjukkan berbagai lokasi, dengan pergerakan kamera super dinamis dari elevasi bawah. Patterson memang doyan melakukan pengambilan gambar/adegan panjang tanpa putus—termasuk sengaja tidak memotong dialog/momen yang sebenarnya tidak relevan dengan plot, dalam rangka membangun suasana dan karakter. Contohnya lagi adalah adegan 9 menit yang menunjukkan rutinitas Fey dalam mengoperasikan panel switchboard (di masa itu penelepon akan dihubungkan lebih dulu dengan operator pusat telekomunikasi/switchboard sebelum dialihkan ke sambungan orang yang ingin dihubungi).
Jadi, walau filmnya tergolong pendek, bukan berarti ‘langsung cepat ke intinya’. Dimulai dari penggambaran suasana persiapan pertandingan basket serta dialog ngalor-ngidul Fey dan Everett saat mereka jalan bareng menuju tempat kerja masing-masing, alur narasi memang berjalan apa adanya dan membiarkan konflik berkembang pelan-pelan. Kurang cocok buat yang nggak doyan menyimak dialog, atau yang maunya banyak adegan aksi duar-duar.
Apakah filmnya tergolong berhasil dengan teknik demikian? Buat saya, ya dan tidak. Saya menikmati atmosfer dan mayoritas dialognya, tapi tidak semua interaksinya menarik untuk disimak. Akhir filmnya (penyelesaian konflik/klimaks dan tema besar) juga terasa kurang ‘nendang’, walau tergolong berani dari segi konsep. Bisa dibilang, daripada misteri utamanya, saya lebih tertarik pada aspek sampingan/serba-serbi di film ini—seperti obrolan Fey dan Everett tentang masa depan, dunia penyiaran, dan pencarian konten untuk radio.
Friday, January 16, 2015
Adventure in Interpreting
Kurang-lebih setahun yang lalu, saya diinformasikan seorang kenalan bahwa sebuah perusahaan bahan konstruksi bangunan dari Prancis tengah mencari penerjemah lisan alias interpreter untuk proyek konstruksi di Cikande, Serang. Proyek itu akan berlangsung selama setahun dan si interpreter akan bertugas menjembatani komunikasi antara tim dari luar negeri (terdiri dari insinyur Inggris, Prancis, Jerman, Cina, Irlandia Utara, dll.) dengan tim lokal lewat bahasa Inggris. Jujur, ini tergolong tantangan yang tinggi, mengingat pengalaman interpreting saya dalam kapasitas profesional saat itu masih nol. Latar belakang saya adalah penerjemahan tulisan/dokumen, dan walaupun saya
Tapi, akhirnya tantangan itu saya songsong dengan dada (begeng) membusung. Setelah saya pikir-pikir, bukannya saya juga belajar penerjemahan tulisan secara otodidak dan praktik langsung? Saya selalu percaya pengalaman adalah guru terbaik dan kalau alasan menolak tantangan itu karena "belum ada pengalaman".... yah, terus kapan akan ada pengalamannya? Idealnya, memang kita belajar berenang mulai dari kolam renang anak-anak dulu, tapi seringkali hidup nggak sebaik itu dan memberikan kesempatan pertama dalam bentuk laut penuh piranha. Terserah pada kita apa mau mengambil kesempatan itu atau nggak.
Interpreting itu susah.
"Semua orang juga tahu!" Iya, tapi perlu ditekankan lagi bahwa latar belakang pendidikan di bahasa Inggris ternyata nggak serta-merta menjadikan kita interpreting yang baik. Latar pelakang penerjemahan (tulisan) juga bukan modal otomatis. Selain kemampuan teknis berbahasa, interpreting (*terutama jenis yang saya alami, yaitu interpreting spontan di tempat dan seringkali sulit diprediksi sebelumnya) sangat membutuhkan kecepatan berpikir, daya konsentrasi yang tinggi, dan kemampuan tahan banting serta belajar dari kesalahan... karena bertugas sebagai interpreter pasti akan sering melakukan kesalahan. Salah dan salah dan salah lagi.
Kehilangan konsentrasi dan gagal menangkap maksud dari pembicara asli. Kesulitan mencari padanan kata yang tepat. Gagal menyampaikan seluruh isi pesan pembicara asli, atau yang lebih gawat lagi, menyampaikan isi pesan yang salah. Hal yang membuat proses interpreting menjadi lebih kompleks adalah fakta banyaknya elemen yang berada di luar kendali/kemampuan kita sebagai interpreter. Bagaimana seandainya pembicara asli bicara dengan aksen yang kurang jelas? Bagaimana seandainya pembicara asli bicara dengan sangat bertele-tele? Bagaimana seandainya pembicara asli menggunakan istilah atau jargon yang tidak kita pahami?
Tapi, percaya atau nggak, solusi alami untuk semua hal itu akan muncul dengan sendirinya lewat proses yang diulang-ulang. Sejujurnya, nggak ada panduan teori yang dapat membantu kita menjadi interpreter yang handal, biarpun hal-hal berikut akan sangat membantu:
1) Persiapan. Seandainya ini interpreting untuk presentasi, pelajari materi dan apa yang akan dibahas dari jauh-jauh hari sebelumnya. Seandainya ini interpreting untuk rapat, pahami konteks dan tujuan dari rapat itu sendiri. Inisiatif sangat penting dalam hal ini, karena seringkali orang-orang yang berkepentingan terlalu sibuk/kelupaan untuk mempersiapkan kita selain garis besarnya.
2) Konsentrasi. Bengong atau melamun selama bertugas itu haram jadah; selalu usahakan nggak ada satu kata atau kalimatpun yang luput dari pendengaran. Ini tantangan tersendiri buat orang-orang seperti saya, yang kadang pikirannya sering mendadak mengembara sampai sejauh planet Pluto.
3) Saat di luar tugas, pastikan "mesin" nggak berkarat. Ini zaman Internet dan globalisasi (*serasa nulis paragraf awal makalah), nggak ada alasan kenapa kita nggak bisa mengumpulkan bahan dan sumber untuk belajar/latihan otodidak. Ajak teman latihan. Perkaya kosa kata. Tonton video/film asing. Pertimbangkan untuk ikut speaking club yang sering aktif di akhir pekan atau selepas jam kantor, atau investasi untuk speaking course.
4) Sering-sering korek kuping dan minum ginkgo biloba.
Setelah perjalanan
Pada dasarnya, saya menekuni bidang ini karena penerjemahan (dalam bentuk apapun) sebenarnya ibarat gerbang ke dunia atau sumber pengetahuan baru. Proyek di Serang yang saya ceritakan ini misalnya, mengajarkan saya berbagai kultur bekerja dan keseharian orang dari berbagai negara, dunia engineering dan berbagai elemen yang terlibat di dalamnya, aspek-aspek produksi/konsumsi/distribusi, aspek keamanan pekerja, dan masih banyak lagi. Menjadi jembatan antara kultur dan bahasa yang berbeda mengharuskan saya untuk turut memahami pengetahuan yang ditransfer antara keduanya, dan membuat saya sadar betapa dunia ini begitu luas dan mengandung tak terhitung banyaknya hal yang bisa dipelajari.
Sunday, January 11, 2015
Indie Book Review: Stories from The Past (Silvarani)
Wednesday, December 17, 2014
Seorang Sahabat Lama: Lupus & Drama/Komedi Remaja
Coba tanya remaja urban generasi akhir 1980-an atau 1990-an, siapa yang nggak kenal Lupus? Sosok berjambul ajaib ini memang sempat jadi ikon sewaktu generasi itu lewat sejumlah buku karangan Hilman, serial televisi dan film. Karakter Lupus yang khas, gaya penceritaan Hilman yang jenaka dan sangat lepas, serta segala kisah petualangan Lupus dengan teman-temannya yang tidak kalah aneh bin ajaibnya juga turut mewarnai masa kecil saya.
Ya, saya punya banyak kenangan tentang Lupus.
Walaupun saya pertama kali menemukan Lupus (tepatnya lewat buku Tragedi Sinemata punya kakak saya yang saya temukan teronggok di kamarnya) sewaktu masih SD, tapi entah kenapa kisahnya itu bisa langsung 'nyambung' dengan saya. Saya dulu sering dibuat ngakak oleh tebak-tebakan konyol Lupus, dipaksa berpikir memaknai pengalaman Lupus yang kadang tidak sesimpel kelihatannya, dan dibuat berkhayal membayangkan masa SMA yang sepertinya begitu sarat suka duka. Saya pun merasakan pengalaman SMA, dan walaupun mungkin tidak segila dan seseru Lupus dan kawan-kawan, tapi saya juga merasakan nikmatnya bercanda dengan teman-teman sece-es, nyomotin gorengan di kantin, gigit jari waktu ongkos angkot naik, dan menaiki roller-coaster cinta monyet. Di situlah kehandalan Hilman, yang benar-benar bisa memotret segala tetek-bengek kehidupan anak SMA ibu kota di zaman itu dan menyelipkan sesuatu yang 'lebih' di dalamnya.
Apa sih misalnya, yang membuat Lupus begitu populer? Padahal dia tokoh fiktif yang jauh dari kata sempurna; ia bukan siswa paling cerdas dan berbakat di sekolah, ataupun sosok pemberontak maskulin seperti tokoh-tokoh utama beberapa novel remaja di generasi yang sama. Tidak, ia hanya seorang siswa SMA biasa yang tak pernah jauh dari kesederhanaan. Ada satu cerita yang saya ingat tentang Anto, seorang teman Lupus yang begitu penasaran kenapa Lupus bisa begitu populer dan disenangi teman-temannya di sekolah. Akhirnya, ia pun meniru gaya Lupus yang cuek bebek, hobinya fotografi, dan segala ciri khasnya, karena ia pikir hal-hal itulah yang membuat Lupus ngetop. Namun, lama-kelamaan barulah ia sadar: Lupus bisa menjadi seorang Lupus karena ia begitu jujur dan apa adanya, karena memang ia tak pernah memaksa diri menjadi seseoran yang bukan dirinya sendiri.
Itu hanya salah satu dari sekian banyak pelajaran hidup yang saya dapat dari cerita Lupus.
Pada dasarnya, menulis komedi itu susah. Masing-masing orang punya selera humor yang berbeda-beda; apa yang bagi satu orang lucu bisa jadi garing buat orang lain. Teman saya mungkin bisa tertawa terjengking-jengking sewaktu menonton acara stand-up comedy, sementara saya hanya bengong dengan alis diangkat. Tapi, Lupus itu spesial karena Hilman memadukan komedinya dengan berbagai momen serius yang sejenak membuat kita terdiam dan merenung. Hilman bukan hanya sekedar membanyol atau bercerita lewat Lupus, tapi menyampaikan nilai-nilai kehidupan mengenai persahabatan, keluarga, sekolah, romansa dan impian masa muda yang dikemas dengan begitu apik tanpa ada kesan menggurui.
Betapa berat tugas seorang pemberi harapan, kalau ia tidak bisa mewujudkan harapan itu kepada orang yang diberi harapan. (Tragedi Sinemata, saat Lupus harus menyampaikan kepada teman-temannya bahwa mereka tidak jadi tampil sebagai pemeran pembantu dalam sebuah film, setelah sebelumnya sempat berada di awang-awang)
"Saya sering merasakan betapa pedihnya hati saya melihat orang lain makan roti seenaknya di depan saya. Sementara saya begitu kelaparan. Tapi mereka nggak peduli. Mereka nggak mau memberikan sebagian rotinya untuk saya yang kelaparan. Saya memang orang miskin yang selalu kelaparan, sejak saya nggak boleh jualan koran lagi. Sekarang, apa saya salah membalas sikap mereka yang tak pernah peduli pada saya?" (Anak Kecil yang Selalu Lapar, saat Lupus bertemu dengan seorang anak kecil yang sengaja makan roti di depan orang-orang yang sedang berpuasa dalam rangka memprovokasi mereka)
"Kamu tak bisa memilikinya untuk selama-lamanya. Dan sebetulnya, itulah kehidupan, Pus. Untuk mendapatkan seteguk kenikmatan, kita kadang harus berjuang keras dan lama sekali. Setelah kenikmatan itu kita reguk, kita pun harus memulai dari bawah lagi. Mengulangi perjuangan yang sama. Begitu seterusnya." (Ayam-ayam Arisan, saat Ibu Lupus menghibur anaknya yang gundah setelah ayam-ayam kesayangannya mati satu-persatu akibat wabah penyakit)
"Kadang saya iri sama kamu, Pus. Kamu enak. Bebas mau pergi-pergi, mau nginep-nginep, tanpa harus repot-repot izin dulu. Kamu begitu bebas. Nggak pernah dicariin Ibu. Kalo saya? Ngilang sebentar aja, udah dicariin."
"Ah, manusia memang aneh. Serba nggak puas. Dicariin salah, nggak dicariin juga salah. Saya justru suka ngiri sama kamu, Lu. Kamu begitu diperhatiin. Apa kamu pikir saya nggak sedih, nggak pernah dicariin?" (Lulu Belum Pulang, dialog kakak-adik saat Lupus dan Lulu mencuci rantang bersama).
Lupus tak pernah mengerti, kenapa ada orang yang tak menghargai apa yang dimilikinya, sedang orang lain begitu ingin memilikinya. (Ekspedisi Merah Putih, saat Lupus bercengkrama dengan mantan pacarnya Poppi).
Dan masih banyak lagi. Lupus memang tidak ada duanya; saya sempat coba membaca Kambing Jantan, serial remaja yang popularitasnya kini bisa disejajarkan dengan Lupus dulu, dengan harapan bisa menemukan pengganti sosok Lupus. Sayangnya, ceritanya kurang "masuk" untuk saya. Mungkin karena temanya melulu berkisar kisah percintaan dan tidak seluas Lupus, mungkin karena tidak ada balance antara bagian komedi dan drama, atau mungkin pada dasarnya bukan selera saya. Tidak masalah, mungkin seperti saya yang tumbuh dan menemukan diri saya pada Lupus dan kawan-kawannnya, remaja dan anak muda generasi kini pun menemukan jati diri mereka pada Kambing Jantan.
Tempo hari, saya menemukan cetakan ulang kisah-kisah Lupus. Harus diakui, ada sedikit perasaan waswas saat saya memutuskan membelinya. Apa saya masih bisa "nyambung" dengan cerita-cerita Lupus, yang notabene banyak aspek di dalamnya yang sudah ketinggalan zaman? Apa saya masih bisa dibuat tertawa dan terharu?
Ternyata, ia masih sama seperti dulu.
Saturday, November 2, 2013
Coconut Rice Chronicle
Usually, I don't really care what I eat for breakfast, and oftentimes I skip breakfast altogether. It's nice when I can have one, but it's not really necessary for me. Then, one day I found a coconut rice joint near my house.
I had a taste of it, and it felt good. I started to have it for breakfast increasingly often, until the point where I used to eat it every day. Somehow I never feel bored with it; it just keeps getting better and better each day. I can't really explain why, as I'm sure there are more delicious kinds of breakfast out there. However, the coconut rice is simply the one I like the most, the only one that could made me wake up really early and go outside just to make sure I get to it before it runs out of stock.
Then, the joint closed. Not all of sudden; it started to close a few times, then increasingly often, and finally it closed permanently. I can't have the coconut rice for breakfast anymore.
A year passed, and I never tasted the rice anymore. I tried some other alternatives for breakfast, but nothing sticks. In the end, I returned into not caring about breakfast again, perhaps even worse than before because now I knew what a perfect breakfast felt like to me; and now that I can't have it anymore, everything else feels inferior in comparison. I can't have anything else until at least I forgot the taste of that coconut rice. But, deep down I know I don't want to forget.
One day, I went back into that place again, and surprised to find out that it is open. "Just for one day, but who knows, maybe you can go back sometime and you'll find us open again," said the owner. I eat the coconut rice again after so long.
It was a beautiful day, and I still love the coconut rice. More than ever.
Friday, September 13, 2013
Kisah Singa dan Burung Hantu
Latihan menulis fabel yang "gelap". Bisa berdiri sendiri, tapi lebih merupakan prolog dari (rencananya) cerita yang lebih besar.






























